Ekonomi Tumbuh, Kok Kepuasan Pemerintah Turun? Ini Temuan Markdata

0 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dilaporkan mengalami penurunan pada tahun kedua pemerintahan. Kajian PT Markdata Riset Indonesia menunjukkan, rata-rata kepuasan dari survei lembaga anggota Persepi merosot dari 79,2 persen pada Oktober–Desember 2025 menjadi 54,4 persen pada Juli–September 2026.

Penurunan itu juga terlihat ketika survei probabilitas nasional dari lembaga di luar Persepi ikut diperhitungkan. Dalam kelompok survei yang lebih luas tersebut, rata-rata kepuasan turun dari 80,4 persen menjadi 63,1 persen.

Dalam kajiannya, Markdata mengidentifikasi dua periode yang menandai penurunan kepuasan masyarakat terhadap pemerintah.

Fase pertama terjadi pada Februari–Maret 2026, ketika pasar modal bergejolak dan inflasi mencapai 4,76 persen. Pada periode tersebut, survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mencatat kepuasan terhadap pemerintah turun dari 81,2 persen menjadi 66,4 persen.

Fase berikutnya berlangsung pada Mei–Agustus 2026. Kenaikan harga BBM nonsubsidi, kelangkaan LPG 3 kilogram, dan pelemahan rupiah disebut menjadi sejumlah faktor yang mewarnai periode tersebut.

Bahkan, survei SMRC pada 1–10 Oktober 2026 mencatat kepuasan publik sebesar 44,5 persen. Angka itu menjadi yang pertama kali berada di bawah 50 persen dalam pengukuran lembaga tersebut selama periode pemerintahan ini.

Direktur Eksekutif Markdata, Faisal Arief Kamil, menilai perjalanan pemerintahan dalam dua tahun terakhir memperlihatkan perubahan yang cukup tajam.

“Dua tahun pemerintahan ini terbelah menjadi dua cerita. Tahun pertama adalah masa bulan madu dengan kepuasan di atas 80 persen. Tahun kedua, dukungan itu terkikis sekitar 25 poin, dan penyebab utamanya bukan politik, melainkan harga kebutuhan pokok,” kata Faisal.

Ekonomi Tumbuh, tetapi Tekanan Rumah Tangga Terasa

Menariknya, penurunan kepuasan tersebut terjadi ketika sejumlah indikator ekonomi makro Indonesia menunjukkan kinerja yang relatif kuat.

Berdasarkan data yang dikutip dalam kajian Markdata, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada Triwulan I-2026 dan 5,29 persen pada Triwulan II-2026. Tingkat kemiskinan juga tercatat sebesar 8,07 persen pada Maret 2026, sedangkan tingkat pengangguran terbuka berada di angka 4,68 persen.

Namun, sejumlah indikator yang berkaitan dengan persepsi dan pengalaman ekonomi masyarakat justru menunjukkan pelemahan.

Indeks Keyakinan Konsumen Bank Indonesia turun dari 127,7 menjadi 118,1. Sementara itu, inflasi kembali berada di atas 3 persen sejak Mei 2026, rupiah melemah hingga Rp17.938 per dolar AS, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 35 persen dari level rekornya.

Faisal menilai, capaian ekonomi nasional belum tentu menggambarkan kondisi yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“PDB dan angka kemiskinan adalah agregat nasional. Warga merasakan ekonomi dari harga beras, BBM, LPG, cicilan, dan kesempatan kerja, dan pada 2026 keempatnya memburuk bersamaan,” kata Faisal.

Hasil Survei Antarlembaga Terpaut Jauh

Selain penurunan kepuasan, Markdata juga menyoroti semakin lebarnya perbedaan hasil survei antar-lembaga.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Ronalds Petrus Gerson
Tim Penulis & Editor
Ronalds Petrus Gerson
Apresiasi untuk Ronalds Petrus Gerson

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU