HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kebebasan berpendapat dan pers menjadi catatan dalam evaluasi kualitas demokrasi selama dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Survei Poltracking Indonesia mencatat, penilaian publik terhadap kebebasan menyampaikan kritik dan kebebasan pers memang masih berada di atas 50 persen, tetapi dinilai belum cukup kuat.
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda Rasyid, memaparkan sebanyak 53,6 persen responden menilai masyarakat masih cukup aman untuk menyampaikan kritik atau pendapat terhadap pemerintah, baik di ruang publik maupun media sosial. Sementara itu, 28,3 persen responden menilai kondisi tersebut kurang aman atau tidak aman.
Menurut Hanta, angka tersebut menunjukkan pemerintah bersama seluruh aparatur negara masih perlu memastikan masyarakat dapat menyuarakan kritik tanpa merasa terancam.
“Ini juga perlu ditingkatkan oleh pemerintah dan semua, tidak hanya pemerintah, ini semua aparat aparatur negara untuk memastikan agar publik, rakyat, masyarakat rasa aman dan bebas untuk menyuarakan kritik atau pendapat terhadap pemerintah di ruang publik maupun media sosial,” kata Hanta dalam pemaparan hasil survei dua tahun evaluasi pemerintahan Prabowo-Gibran, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Penilaian serupa terlihat pada kebebasan pers dalam menjalankan pemberitaan. Sebanyak 52,9 persen responden menilai pers masih sangat bebas atau cukup bebas. Namun, Hanta menilai capaian tersebut tetap perlu ditingkatkan untuk memperkuat kualitas demokrasi.
“Kebebasan pers dalam melakukan pemberitaan angkanya juga lebih tinggi yang mengatakan sangat bebas dan cukup bebas dibandingkan yang tidak bebas. Namun, saya tetap mengambil angka yang pesimistis untuk pemerintah memperbaiki, 52,9 persen ini perlu sangat ditingkatkan,” ujarnya.
Sementara itu, terkait kebebasan berserikat dan menggelar unjuk rasa secara damai, 57,6 persen responden menilai masyarakat masih memiliki kebebasan, sedangkan 20,6 persen menilai kebebasan tersebut masih kurang.
Hanta menegaskan, kebebasan menyampaikan kritik dan berunjuk rasa merupakan indikator penting demokrasi yang perlu terus diperbaiki.
“Indikator-indikator penting demokrasi terkait kebebasan menyampaikan kritik, kebebasan berunjuk rasa saya kira harus ditingkatkan di atas 60 bahkan 70 persen,” kata Hanta.



