HOLOPIS.COM, JAKARTA – Aktivitas wisata domestik Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan sepanjang 2026. Kementerian Pariwisata, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 737,85 juta perjalanan, tumbuh 3,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut juga terlihat dari pergerakan wisatawan dalam satu bulan. Pada Juli 2026, jumlah perjalanan wisnus mencapai 107,44 juta perjalanan, meningkat 7,23 persen dibandingkan Juli 2025 yang tercatat sebanyak 100,20 juta perjalanan.
Besarnya mobilitas wisatawan domestik turut menggerakkan berbagai aktivitas pariwisata di daerah tujuan. Perjalanan wisata berkaitan dengan kebutuhan terhadap akomodasi, transportasi, makanan dan minuman, hingga berbagai jasa pendukung wisata.
Perkembangan tersebut juga terlihat dari meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Sepanjang Januari hingga Juli 2026, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 8,98 juta kunjungan, tumbuh 5,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada Juli 2026, BPS mencatat 1,53 juta kunjungan wisman, meningkat 2,95 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2025. Wisman terbanyak berasal dari Malaysia sekitar 228,71 ribu kunjungan, Australia 188,25 ribu kunjungan, Tiongkok 156,75 ribu kunjungan, dan Singapura 117,28 ribu kunjungan.
Peningkatan kunjungan wisman tersebut turut beriringan dengan capaian devisa pariwisata. Kementerian Pariwisata mencatat devisa pariwisata pada Semester I 2026 mencapai 8,43 miliar dolar AS atau sekitar Rp145,13 triliun, meningkat 2,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 8,20 miliar dolar AS atau sekitar Rp134,68 triliun.
Wisnus Banyak Bergerak di Pulau Jawa
Besarnya jumlah perjalanan wisnus secara nasional juga terlihat dari sebarannya di berbagai daerah. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Jawa Barat menjadi provinsi tujuan dengan jumlah perjalanan wisnus terbanyak, yakni sekitar 130,98 juta perjalanan, disusul Jawa Timur 121,72 juta perjalanan dan Jawa Tengah 99,62 juta perjalanan.

Dari sisi pertumbuhan, Kalimantan Barat mencatat kenaikan perjalanan wisnus sebesar 15,06 persen dibandingkan Januari hingga Juli 2025. Pertumbuhan tersebut diikuti Gorontalo sebesar 14,47 persen dan Jawa Tengah sebesar 11,67 persen, sementara Jawa Timur mencatat penurunan sebesar 7,21 persen.
Tingginya mobilitas di dalam negeri juga terlihat ketika dibandingkan dengan perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, jumlah perjalanan wisatawan nasional (wisnas) mencapai 5,26 juta perjalanan, turun 3,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Okupansi Hotel Ikut Menguat
Meningkatnya pergerakan wisatawan kemudian tercermin pada aktivitas industri akomodasi. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 49,13 persen, meningkat 2,36 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penguatan juga terlihat pada hotel nonbintang dan akomodasi lainnya. TPK pada kelompok akomodasi tersebut mencapai 25,16 persen, meningkat 0,59 poin persentase dibandingkan Januari hingga Juli 2025.
Rangkaian data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan pariwisata Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 tidak hanya tercermin dari meningkatnya perjalanan wisatawan domestik dan kunjungan wisman. Aktivitas tersebut juga berjalan beriringan dengan meningkatnya tingkat hunian akomodasi serta capaian devisa pariwisata yang mencapai Rp145,13 triliun pada Semester I 2026.
Karena itu, Kementerian Pariwisata melalui Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 menekankan bahwa perkembangan pariwisata tidak cukup dilihat dari jumlah kunjungan. Kualitas pengalaman wisata, nilai tambah ekonomi, serta manfaat yang semakin dirasakan masyarakat di daerah tujuan juga menjadi bagian penting dalam mengukur pertumbuhan sektor pariwisata Indonesia.



