Hari Kopi Internasional 2026, Ekspor Kopi RI Tembus 1 Miliar Dolar AS, Tapi Ada Ancaman di Baliknya

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Hari Kopi Internasional diperingati setiap 1 Oktober untuk merayakan keberagaman dan kualitas kopi sekaligus mengapresiasi jutaan petani yang menggantungkan penghidupannya pada komoditas tersebut. International Coffee Organization (ICO) bersama negara-negara anggotanya menetapkan 1 Oktober sebagai hari perayaan kopi global pada Maret 2014, yang kemudian pertama kali diperingati pada 1 Oktober 2015.

Peringatan tersebut menjadi relevan bagi Indonesia yang merupakan salah satu negara penghasil kopi dunia. Di dalam negeri, konsumsi kopi Indonesia disebut tumbuh 50,02 persen dalam 10 tahun terakhir berdasarkan data ICO yang dikutip Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Selain memenuhi kebutuhan domestik, kopi Indonesia juga memiliki pasar ekspor yang besar.

Ekspor Kopi Indonesia Tembus 1 Miliar Dolar AS

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor kopi Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 1,0076 miliar dolar AS. Nilai tersebut merupakan akumulasi ekspor selama tujuh bulan, dengan nilai ekspor masing-masing mencapai 120 juta dolar AS pada Januari, 109,6 juta dolar AS pada Februari, 72,9 juta dolar AS pada Maret, 125,5 juta dolar AS pada April, 180,9 juta dolar AS pada Mei, 177,3 juta dolar AS pada Juni, dan 221,4 juta dolar AS pada Juli.

Capaian tersebut ditopang oleh produksi kopi nasional yang mencapai sekitar 826,41 ribu ton pada 2025, berdasarkan publikasi Statistik Tanaman Perkebunan Tahunan Indonesia 2025. Sumatera Selatan menjadi sentra produksi terbesar dengan 228 ribu ton, disusul Lampung 127,58 ribu ton, Sumatera Utara 91,96 ribu ton, Aceh 68,92 ribu ton, dan Bengkulu 56,91 ribu ton.

Kinerja ekspor dan produksi tersebut sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan produktivitas serta nilai tambah kopi nasional. Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut kopi sebagai salah satu komoditas ekspor unggulan yang memiliki pasar internasional sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi jutaan pekebun.

Pemerintah juga membidik nilai ekspor kopi Indonesia mencapai Rp100 triliun per tahun. Target tersebut disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat meninjau perbenihan kopi di Bener Meriah, Aceh, pada Juli 2026. Upaya yang didorong mencakup peningkatan kualitas bibit, produktivitas kebun, dan penguatan posisi kopi Indonesia di pasar dunia.

Areal Kopi Menghadapi Potensi Kondisi Kering

Data Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukkan luas areal kopi Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 1,27 juta hektare. Luasan tersebut meningkat menjadi sekitar 1,29 juta hektare pada 2025, yang terdiri dari 1,27 juta hektare perkebunan rakyat, 6,28 ribu hektare perkebunan besar swasta, dan 11,31 ribu hektare perkebunan besar negara.

Areal yang hampir mencapai 1,3 juta hektare tersebut menjadi salah satu penopang produksi kopi nasional. Namun, luas perkebunan juga menghadapkan sektor hulu pada tantangan perubahan iklim. Kementan memetakan sekitar 28 persen areal kopi pada wilayah yang dipantau berpotensi mengalami kondisi kering selama September hingga November 2026.

Kementan menegaskan angka tersebut merupakan potensi berdasarkan prediksi iklim dan bukan berarti 28 persen kebun kopi Indonesia telah mengalami kerusakan akibat kekeringan. Kondisi di lapangan tetap dipengaruhi curah hujan, ketersediaan air, karakteristik lahan, serta kemampuan pekebun dalam beradaptasi.

Wilayah yang menjadi perhatian dalam pemantauan meliputi Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Bali, Banten, Nusa Tenggara Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menghadapi potensi tersebut, pemerintah mendorong sejumlah langkah adaptasi, mulai dari konservasi tanah dan air, penggunaan benih yang adaptif terhadap perubahan iklim, pemanfaatan informasi cuaca dan iklim, hingga pendampingan kepada pekebun.

Dampak perubahan iklim juga tidak hanya berkaitan dengan jumlah hasil panen. Kondisi tanaman dan lingkungan budidaya dapat memengaruhi mutu biji kopi, yang kemudian turut menentukan daya saingnya di pasar.

Karena itu, momentum Hari Kopi Internasional 2026 tidak hanya berbicara tentang secangkir kopi yang dikonsumsi masyarakat. Di baliknya terdapat tantangan untuk menjaga produktivitas kebun, menghadapi perubahan iklim, meningkatkan kualitas hasil panen, serta memastikan pekebun tetap menjadi bagian penting dari pertumbuhan industri kopi.

0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Vhina Noviyanti
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Muhammad Ibnu Idris

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU