Hari Pangan Sedunia 2026, Produksi Beras RI Naik tapi Harga dan El Niño Jadi Ancaman

0 Shares
Ukuran text:
21
Dengarkan Berita:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Hari Pangan Sedunia diperingati setiap 16 Oktober untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya akses terhadap pangan yang cukup, aman, bergizi, dan terjangkau.

Peringatan ini menjadi momentum untuk melihat kondisi ketahanan pangan Indonesia, terutama di tengah kenaikan harga beras dan ancaman perubahan iklim yang berpotensi memengaruhi produksi pertanian.

Pada 2026, Hari Pangan Sedunia mengusung tema “Innovate Today. Nourish Tomorrow” atau “Berinovasi Hari Ini, Penuhi Kebutuhan Pangan Esok Hari”.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menekankan pentingnya inovasi, pengetahuan, dan pendekatan inklusif untuk memastikan setiap orang memperoleh pangan yang cukup, beragam, aman, dan bergizi.

Di Indonesia, produksi beras menunjukkan peningkatan sepanjang 2025. Namun, ketersediaan pangan nasional masih perlu diimbangi dengan harga yang terjangkau dan kesiapan menghadapi gangguan iklim. Kedua aspek tersebut penting untuk memastikan masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Produksi Beras Meningkat, Harga Masih Jadi Tantangan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk pada 2025 mencapai 34,69 juta ton. Jumlah tersebut meningkat 4,07 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan produksi pada 2024 yang mencapai 30,62 juta ton.

Peningkatan produksi beras tersebut sejalan dengan bertambahnya luas panen padi. Pada 2025, luas panen mencapai 11,32 juta hektare, meningkat 12,69 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, produksi padi mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG).

Meski produksi meningkat, perkembangan harga beras masih menjadi perhatian. BPS mencatat rata-rata harga beras di tingkat perdagangan besar atau grosir pada September 2026 mencapai Rp14.992 per kilogram. Harga tersebut meningkat dibandingkan Januari 2026 yang sebesar Rp14.218 per kilogram.

Sementara itu, data BPS menunjukkan harga beras di tingkat penggilingan juga mengalami kenaikan pada September 2026. Rata-rata harga beras kualitas premium mencapai Rp15.185 per kilogram, naik 0,81 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Adapun harga beras kualitas medium mencapai Rp14.018 per kilogram, meningkat 0,87 persen dibandingkan Agustus 2026.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan produksi nasional belum cukup untuk menghilangkan tantangan harga. Keterjangkauan beras juga dipengaruhi oleh distribusi, biaya perdagangan, dan kondisi pasokan di masing-masing daerah.

Di sisi lain, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,6 juta ton per 16 September 2026. Cadangan tersebut menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menjaga pasokan dan melakukan intervensi ketika diperlukan, termasuk melalui program stabilisasi pasokan dan harga pangan.

Ancaman El Niño Mengintai Produksi dan Akses Pangan

Selain persoalan harga, ketahanan pangan Indonesia juga menghadapi ancaman perubahan iklim akibat fenomena El Niño. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 2 Oktober 2026 memperkirakan fenomena tersebut akan bertahan hingga awal 2027.

BMKG memperkirakan sebanyak 529 Zona Musim atau 61,08 persen dari seluruh Zona Musim di Indonesia akan mengalami awal musim hujan yang mundur dibandingkan kondisi normal. Sebanyak 482 Zona Musim yang mencakup 51,90 persen luas daratan Indonesia juga diprediksi mengalami musim hujan yang lebih pendek dari biasanya.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Vhina Noviyanti
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Muhammad Ibnu Idris
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU