AI Makin Canggih, Indonesia Tak Hanya Butuh Talenta tapi Juga Akses yang Merata

2 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya menuntut Indonesia menyiapkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan teknologi. Pemerataan akses juga menjadi persoalan agar manfaat perkembangan AI dapat dirasakan oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan Indonesia memiliki modal demografi yang besar dengan sekitar 69 persen penduduk berada dalam usia produktif. Jumlah tersebut perlu diikuti peningkatan kompetensi agar bonus demografi dapat memberikan dampak terhadap perekonomian.

“Sebenarnya teknologi dan AI itu harus kita manfaatkan untuk meningkatkan produktivitas kita. Kita punya bonus demografi sekitar 69 persen. Nah, bagaimana bonus demografi ini kita transformasikan menjadi bonus kompetensi,” kata Destry dalam sebuah diskusi di Jakarta International Convention Center (JICC) Senayan, Jakarta Pusat, dikutip Holopis.com, Jumat (25/9).

Destry juga mendorong pemerintah, Bank Indonesia, dan berbagai pihak untuk bersinergi dalam mengembangkan talenta muda. Pengembangan tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan ekonomi dan masyarakat agar kemampuan yang dimiliki dapat menghasilkan sesuatu yang memberikan manfaat.

“Kita jangan hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga harus menjadi produsen teknologi yang memberikan dampak,” ujarnya.

Di sisi lain, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengatakan kesiapan talenta menghadapi AI tidak cukup hanya dengan kemampuan teknis. Menurutnya, perkembangan AI membuat kemampuan berpikir kritis seseorang menjadi semakin penting.

- Advertisement -

AI, kata Stella, akan semakin banyak mengambil alih pekerjaan yang bersifat teknis dan rutin. Untuk itu, sistem pendidikan harus membekali masyarakat dengan kemampuan untuk menilai jawaban yang dihasilkan AI, termasuk dari sisi kebenaran, efisiensi, serta kelayakan informasi yang diberikan.

“Yang harus kita siapkan dari pendidikan tinggi adalah orang-orang yang mampu mengevaluasi hasil dari AI. Apakah hasilnya benar atau salah, apakah hasilnya efisien atau tidak, apakah hasilnya baik atau tidak. Itulah yang nantinya meningkatkan produktivitas,” jelas Stella.

Kemampuan tersebut, lanjut Stella, dapat dilatih melalui kegiatan riset di perguruan tinggi. Proses riset mendorong seseorang memahami persoalan, mengajukan pertanyaan, menyusun jawaban secara sistematis, hingga mengomunikasikan hasilnya.

“Menurut saya, inti dari universitas sebenarnya adalah penelitian. Bagaimana kita mengajukan pertanyaan dengan baik, bagaimana kita menjawab pertanyaan secara sistematis, kemudian bagaimana kita mengomunikasikan jawaban tersebut. Itu semua membutuhkan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan berinovasi,” kata Stella.

Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid kemudian menyoroti persoalan akses dalam pemanfaatan teknologi. Ia mengatakan kesenjangan digital masih terjadi karena tidak semua kelompok masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh dan memanfaatkan teknologi.

Kesenjangan tersebut terlihat dari perbedaan kondisi masyarakat di kota dan desa, kelompok berpenghasilan tinggi dan rendah, serta masyarakat dengan tingkat pendidikan yang berbeda. Yenny menyebut setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni konektivitas, ekosistem, dan kepercayaan.

“Masalah utama kita bukan pada seberapa canggih teknologi yang kita punya, tetapi inequality (ketidaksamaan),” kata Yenny.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Vhina Noviyanti
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Muhammad Ibnu Idris

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

(function(w,q){w[q]=w[q]||[];w[q].push(["_mgc.load"])})(window,"_mgq");

Berita Lainnya

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU