HOLOPIS.COM, SEMARANG – Pemerintah menyiapkan sejumlah mesin pertumbuhan baru untuk memperkuat ekonomi Indonesia, tidak hanya melalui hilirisasi sumber daya alam, tetapi juga dengan mengembangkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), semikonduktor, energi hijau, dan memperluas pasar ekspor.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, penguatan sektor-sektor tersebut diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan produktivitas dan daya saing Indonesia di tengah perubahan ekonomi global.
“Indonesia harus terus memperkuat mesin-mesin pertumbuhan baru. Kita tidak hanya perlu menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatkan produktivitas, memperkuat industri, dan menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan ekonomi ke depan,” jelas Airlangga dalam acara Kuliah Umum dan Penyerahan Beasiswa DPP Universitas Negeri Semarang (UNNES) Tahun 2026, dikutip Holopis.com, Sabtu (10/10/2026).
Berdasarkan data yang disampaikan pemerintah, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen secara kumulatif (cumulative-to-cumulative/ctc) pada Semester I 2026, dengan konsumsi domestik dan investasi sebagai penopang. Sementara itu, inflasi pada September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen.
Untuk mempertahankan momentum tersebut, pemerintah mendorong penguatan industri bernilai tambah tinggi, pemanfaatan teknologi, transisi energi, serta perluasan akses produk Indonesia ke pasar internasional.
1. Hilirisasi Jadi Andalan, Ekspor Mineral dan Logam Melonjak
Hilirisasi masih menjadi salah satu strategi utama pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Melalui pengolahan di dalam negeri, komoditas Indonesia diharapkan dapat menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi sebelum dipasarkan ke luar negeri.
Pemerintah mencatat nilai ekspor produk mineral dan logam meningkat dari sekitar USD1,4 miliar pada 2016 menjadi USD35 miliar pada 2025.
Diversifikasi produk turunan kelapa sawit juga berkembang dari 54 menjadi 208 produk. Sementara itu, ekspor kelapa terus didorong agar tumbuh mencapai 50 persen.
Capaian tersebut menunjukkan potensi pengembangan industri pengolahan untuk memperluas jenis produk ekspor Indonesia. Ke depan, penguatan teknologi dan keterkaitan antarindustri diperlukan agar manfaat hilirisasi dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha dan tenaga kerja domestik.
2. AI dan Semikonduktor Dibidik Jadi Sumber Pertumbuhan Baru
Selain mengolah sumber daya alam, pemerintah ingin memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi digital. Fokusnya bukan hanya menjadi pasar teknologi, melainkan juga mengembangkan kemampuan inovasi dan menghasilkan produk bernilai tambah digital.
Airlangga menyoroti pentingnya ekosistem yang menghubungkan pusat data (data center), AI, semikonduktor, dan talenta digital. Penguasaan teknologi tersebut dinilai semakin menentukan perkembangan industri dan daya saing ekonomi pada masa mendatang.



