HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap potensi peningkatan ekspor Indonesia sebesar USD60,5 miliar di empat pasar utama, yakni China, Amerika Serikat (AS), Jepang, dan India. Potensi tersebut tercermin dari export gap atau selisih antara nilai ekspor aktual dan potensi ekspor maksimal yang masih bisa dimanfaatkan.
Berdasarkan pemetaan pemerintah menggunakan data 2025, China menjadi pasar dengan potensi ekspansi terbesar, mencapai USD31 miliar. Peluang ini terutama berasal dari komoditas mineral dan logam, mesin dan peralatan elektronik, produk kayu, kertas, karet dan plastik, serta bahan kimia.
Di Amerika Serikat, potensi export gap mencapai USD14 miliar, antara lain dari kendaraan, mineral dan logam, mesin dan elektronik, serta produk kimia.
Sementara itu, Jepang menyimpan peluang ekspor sebesar USD5,5 miliar, terutama untuk produk mineral dan logam, hasil laut, produk nabati, dan bahan kimia. Adapun India memiliki potensi USD10 miliar dari mineral dan logam, bahan kimia, mesin dan elektronik, serta produk nabati.
“Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan ekspor tidak hanya perlu dilakukan melalui pencarian pasar baru, tetapi juga dengan memperdalam pasar yang selama ini telah menjadi tujuan ekspor Indonesia,” tutur Airlangga dalam keterangan tertulis, dikutip Holopis.com, Senin (19/10/2026).
Pemerintah Siapkan Strategi Ekspor Berbasis Komoditas
Untuk merealisasikan peluang tersebut, pemerintah akan memperkuat strategi ekspor berbasis komoditas dengan mempertemukan kapasitas produksi domestik dan kebutuhan spesifik negara tujuan.
Strategi ini mencakup sektor pertambangan, pertanian dan perkebunan, perikanan, serta manufaktur. Produk elektronik, teknologi, dan telekomunikasi juga masuk dalam pemetaan potensi ekspor.
Pemerintah turut memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga bersama pelaku usaha untuk mengatasi hambatan ekspor, mulai dari regulasi dan standardisasi hingga kendala teknis di lapangan.
“Dengan pendekatan tersebut, optimalisasi pasar utama diharapkan tidak hanya dilakukan melalui peningkatan nilai ekspor secara agregat, tetapi juga melalui penguatan ekspor produk bernilai tambah dan diversifikasi komoditas, sehingga peluang pasar yang masih terbuka dapat dikonversi menjadi ekspor Indonesia yang lebih konkret,” kata Airlangga.
Potensi export gap tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas penetrasi di pasar yang sudah terbentuk, sekaligus meningkatkan nilai tambah dan diversifikasi produk ekspor nasional.



