HOLOPIS.COM, JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebut industri halal Indonesia tumbuh 5,5 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Pertumbuhan tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama.
Capaian ini sejalan dengan posisi Indonesia yang bertahan di peringkat keempat dunia dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026.
“Capaian ini menjadi fondasi, bukan garis akhir, karena masih terbuka ruang besar untuk meningkatkan pangsa pasar keuangan syariah, memperdalam pasar, dan memperluas literasi, sehingga diperlukan akselerasi melalui sinergi dan transformasi digital,” ujar Destry Damayanti saat pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026, di JICC, Senayan, Jakarta Pusat, dikutip Holopis.com, Rabu (14/10).
Potensi pasar global, menurut Destry, turut membuka peluang bagi pengembangan industri halal Indonesia. Pemerintah memproyeksikan belanja masyarakat muslim dunia mencapai 3,56 triliun dolar AS pada 2029.
UMKM dan Ekspor Jadi Perhatian
Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo, menyebut ekonomi syariah berpeluang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia.
“Peluang tersebut didukung proyeksi belanja masyarakat muslim global yang mencapai USD3,56 triliun pada 2029,” ujar Dradjat.
Dradjad juga menyebut, pemerintah terus mendorong penguatan industri halal dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perluasan ekspor serta kerja sama internasional, dan pengembangan keuangan serta dana sosial syariah.
Langkah tersebut, lanjutnya, diarahkan untuk memperluas akses pembiayaan bagi UMKM serta meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah. Dengan begitu, pelaku usaha diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan bisnis dan menjangkau pasar yang lebih luas.
“Potensi ekonomi syariah dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” kata Dradjad.
Di sisi lain, Bank Indonesia menilai peningkatan pangsa pasar keuangan syariah, pendalaman pasar, dan perluasan literasi masyarakat masih menjadi pekerjaan yang perlu dituntaskan untuk memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global. Transformasi digital dan sinergi antarpemangku kepentingan pun dinilai penting untuk mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional.



