HOLOPIS.COM, SAMARINDA — Aksi unjuk rasa yang digelar oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda diwarnai insiden gesekan fisik antara mahasiswa dan tim pengawalan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud.
Peristiwa yang terjadi di kawasan Masjid Nurul Mu’minin, Samarinda, pada Senin (19/10/2026) menjelang magrib ini mendadak viral di media sosial.
Warganet beramai-ramai menyoroti sikap salah satu ajudan Gubernur Kaltim, Asky Toding, yang dikenal di Instagram melalui akun @askyandlaura. Akun tersebut dibanjiri komentar setelah dituding memperlihatkan tindakan yang dinilai arogan saat melakukan pengawalan.
Sayangnya, setelah viral tingkahnya yang mencoba bermain fisik dengan Mahasiswa tersebut, akun Instagram @askyandlaura hilang.

Picu Protes Akibat Senggolan Keras
Insiden bermula ketika massa aksi dari GMNI Samarinda tengah berkumpul di sekitar area masjid setelah menggelar demonstrasi sejak pukul 14.00 WITA. Mereka turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan evaluasi kepemimpinan nasional serta mendesak aksi nyata Pemprov Kaltim dalam mengatasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ketegangan pecah saat Gubernur Rudy Mas’ud tiba di lokasi untuk menunaikan salat Magrib dengan didampingi dua ajudannya. Pada momen tersebut, sejumlah mahasiswa yang berada di lokasi melontarkan kritik dan meluapkan kekecewaan karena Gubernur tidak menemui massa selama demonstrasi berlangsung.
Berdasarkan rekaman video berdurasi 30 detik yang beredar luas, salah satu ajudan tampak berjalan dan melakukan senggolan badan secara keras terhadap seorang demonstran yang tengah merekam kedatangan rombongan. Tindakan respons fisik ini langsung memicu protes keras dari kader GMNI yang berada di lokasi karena dinilai represif dan berlebihan.
Respons Publik dan Pihak Pemprov Kaltim
Potongan video gesekan tersebut langsung menyebar di berbagai platform digital dan memicu perdebatan. Hingga berita ini diturunkan, pihak Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Provinsi Kaltim belum mengeluarkan pernyataan ataupun rilis resmi terkait polemik pengawalan yang melibatkan ajudan Gubernur tersebut.
Kasus ini menambah daftar panjang sorotan publik terhadap perilaku pengawal pejabat di Kaltim, setelah sebelumnya pada Juli 2025, salah satu asisten pribadi Gubernur Kaltim juga sempat dikecam oleh AJI Samarinda dan PWI Kaltim akibat tindakan penghentian paksa wawancara wartawan.




