HOLOPIS.COM, JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai pasar modal Indonesia memiliki sejumlah keunggulan untuk mempertahankan status emerging market di tengah konsultasi MSCI terkait usulan perubahan klasifikasi menjadi standalone market.
Meski demikian, transparansi kepemilikan saham dan kualitas data masih menjadi pekerjaan rumah utama dalam agenda reformasi pasar modal.
Direktur BEI Iding Pardi mengatakan, Indonesia memiliki ukuran pasar yang relatif besar, likuiditas memadai, serta aksesibilitas bagi investor global.
Berdasarkan data BEI, kapitalisasi pasar saham Indonesia mencapai USD497,96 miliar, jauh di atas Nigeria sebesar USD106,27 miliar dan Argentina sebesar USD72,94 miliar, yang saat ini berstatus Standalone Market.
“Kami terus melakukan pembenahan untuk meningkatkan transparansi, memperkuat kualitas data, dan memastikan akses informasi yang lebih baik bagi investor. Upaya ini juga menjadi bagian dari komitmen kami dalam menindaklanjuti perhatian MSCI terhadap pasar modal Indonesia,” ujar Iding kepada wartawan, dikutip Holopis.com, Senin (19/10/2026).
Indonesia juga memiliki sembilan saham dalam MSCI Standard Index, melampaui persyaratan minimum tiga saham untuk kategori Emerging Market.
Dari sisi ekonomi, pertumbuhan Indonesia mencapai 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II-2026, inflasi September sebesar 3,28 persen, dan cadangan devisa akhir September mencapai USD146,3 miliar.
Transparansi Saham Jadi Pekerjaan Rumah BEI
Meski memiliki sejumlah keunggulan, BEI mengakui transparansi kepemilikan saham yang masuk dalam Pilar 5 penilaian MSCI masih menjadi perhatian.
Bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO), BEI memperkuat keterbukaan informasi kepemilikan saham di atas 1 persen serta menyempurnakan metodologi High Shareholding Concentration (HSC).
Bursa juga meningkatkan ketentuan minimum free float menjadi 15 persen secara bertahap. Per 30 September 2026, rata-rata free float perusahaan tercatat mencapai 22,99 persen, dengan 560 dari 918 emiten telah memenuhi ketentuan tersebut.
“Kami juga memfasilitasi pertemuan antara Perusahaan Tercatat dan calon investor melalui roadshow, business meeting, dan public expose live untuk memperluas eksposur perusahaan sekaligus mendukung pemenuhan ketentuan secara terukur,” tutur dia.
Laba Emiten Tumbuh, Keputusan MSCI Belum Final
Di tengah tekanan pasar, laba bersih seluruh emiten meningkat 16,25 persen pada semester I-2026. Laba perusahaan dalam indeks LQ45 tumbuh 18,49 persen, sedangkan sektor energi mencatat pertumbuhan laba tertinggi sebesar 78,28 persen.
Sebagai pembanding, FTSE Russell pada 6 Oktober 2026 tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori Secondary Emerging dan tidak memasukkannya ke dalam Watch List.
Sementara itu, MSCI mengumumkan konsultasi terkait usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia pada 15 Oktober 2026. Hingga kini, proses tersebut belum menghasilkan keputusan final.



