HOLOPIS.COM, JAKARTA – Indonesia menjadi negara dengan penggunaan artificial intelligence (AI) untuk pendidikan tertinggi di dunia berdasarkan data Statista Consumer Insights per 8 September 2026. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengatakan tingginya penggunaan AI perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dalam proses pembelajaran.
Stella menjelaskan penggunaan AI tidak hanya berpotensi mengambil alih pekerjaan manusia yang bersifat teknis dan rutin. Penggunaan teknologi secara berlebihan untuk memperoleh jawaban secara instan juga dapat memengaruhi kemampuan kognitif manusia.
“Saya sebagai ilmuwan kognitif, saya akan bisa bilang bukti dan data menunjukkan bahwa menggunakan AI di pelajaran dan di pendidikan menurunkan kemampuan berpikir kritis,” ujar Stella dalam sebuah diskusi di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta Pusat, dikutip Holopis.com, Jumat (25/9).

Untuk menghadapi era AI, Stella menilai pendidikan tinggi di Indonesia perlu lebih banyak menyiapkan mahasiswa yang tidak hanya mampu berinovasi dan berpikir kritis, tetapi juga dapat mengevaluasi hasil atau jawaban yang diberikan AI.
“Kemampuan untuk berinovasi, mengevaluasi AI, berpikir kritis itu menjadi yang lebih penting lagi. Dari dulu penting, sekarang lebih penting lagi,” ujarnya.
Kemampuan tersebut lanjut Stella, dapat dilatih dengan budaya riset di perguruan tinggi. Menurutnya, proses riset melatih seseorang memahami persoalan, mengajukan pertanyaan, menyusun jawaban secara sistematis, hingga mengomunikasikan hasilnya.
“Satu-satunya cara untuk kita bisa tetap mampu mengevaluasi AI adalah kita harus bisa mengerti melalui proses berpikirnya,” tutur Stella.
Ia mengatakan kemampuan tersebut selama ini menjadi bagian dari inti pendidikan tinggi. Karena itu, kegiatan riset menurutnya tidak seharusnya hanya dipandang sebagai aktivitas bagi mahasiswa atau akademisi yang ingin menjadi peneliti.
“Kalau kita mampu melakukan riset dengan baik, mampu mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan tersebut dengan sistematis dan mampu mengomunikasikan jawaban dari pertanyaan tersebut, inilah kemampuan berpikir kritis, kemampuan kreatif, kemampuan inovasi,” jelasnya.
Stella menilai budaya riset di Indonesia masih perlu diperkuat. Ia mencontohkan perkembangan industri AI yang menurutnya banyak berawal dari riset yang dilakukan di universitas.
“Industri yang paling besar, yang paling menghasilkan perputaran uang pada saat ini adalah industri kecerdasan artifisial. Pemimpin industri kecerdasan artifisial datang dari riset. Semuanya datang dari riset dari universitas,” ungkap Stella.
Menurutnya, penguatan riset di perguruan tinggi perlu dikaitkan dengan pengembangan inovasi agar Indonesia dapat membangun talenta yang mampu menghadapi perubahan akibat perkembangan AI.



