HOLOPIS.COM, JAKARTA – Influenza A H3N2 subclade K masih terdeteksi di Indonesia dan telah ditemukan di 13 provinsi. Di tengah meningkatnya aktivitas influenza di kawasan Asia Tenggara, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap remeh gejala influenza pada anak.
Kementerian Kesehatan sebelumnya menyebut subclade K bukan virus influenza baru, melainkan bagian dari influenza musiman. Data pemantauan Kemenkes juga mencatat subclade tersebut tersebar di 13 provinsi, dengan temuan terbanyak di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.
Laporan WHO Western Pacific hingga minggu epidemiologi ke-35 tahun 2026 menunjukkan aktivitas influenza di zona transmisi Asia Tenggara terus meningkat. Pada periode tersebut, positivity influenza secara regional naik dari 13 persen pada minggu ke-33 menjadi 14 persen pada minggu ke-35.
Di Indonesia, pemantauan Kemenkes pada minggu ke-35 juga masih menemukan kasus influenza A(H3N2), meski pada pemeriksaan tersebut influenza A(H1N1)pdm09 menjadi mayoritas temuan.
Kondisi ini membuat perhatian terhadap kelompok rentan kembali mengemuka, terutama anak-anak.
Anak Lebih Rentan
Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr dr Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K), mengatakan anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami influenza bergejala dibandingkan orang dewasa.
“Data global menunjukkan bahwa anak usia 0-17 tahun memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami infeksi influenza simtomatik dibandingkan orang dewasa. Sistem imun anak masih naif, sehingga tubuh mereka belum cukup kuat untuk segera mengendalikan dampak infeksi virus,” ujar Hikari dalam keterangan resminya pada , Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, anak juga dapat berperan dalam penularan virus di lingkungan sekitar.
“Anak juga cenderung melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan lebih lama, sehingga berpotensi menjadi sumber penularan di lingkungan keluarga dan sekolah,” lanjutnya.
Prof Dr dr Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI, menekankan pentingnya mengenali influenza sejak awal, terutama pada anak yang memiliki faktor risiko.
Influenza pada kelompok tersebut dapat berkembang menjadi sejumlah komplikasi, termasuk pneumonia, eksaserbasi asma, miokarditis hingga ensefalopati.
“Diagnosis laboratoris sangat penting, terutama dengan RT-PCR yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi serta mampu mengidentifikasi subtipe virus. Terapi antivirus neuraminidase inhibitor, seperti oseltamivir, efektif bila diberikan dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul. Namun, yang tidak kalah penting adalah pencegahan melalui vaksinasi tahunan dan penerapan protokol kesehatan,” tegas Prof Anggraini.
WHO: Aktivitas Masih Meningkat
WHO mencatat influenza A(H3) menjadi subtipe yang paling banyak terdeteksi di kawasan Western Pacific pada minggu ke-35, dengan proporsi 43,4 persen dari seluruh deteksi influenza. Aktivitas influenza juga dilaporkan meningkat di zona transmisi Asia Tenggara, khususnya di sejumlah negara seperti Brunei Darussalam, Kamboja, Malaysia dan Vietnam.
Sementara itu, Kemenkes mencatat subclade K memang sudah ditemukan di 13 provinsi di Indonesia. Namun, Kemenkes juga menyatakan belum ada bukti bahwa H3N2 subclade K menyebabkan penyakit yang lebih berat atau meningkatkan angka rawat inap dibandingkan influenza lainnya.
Artinya, istilah “Super Flu” yang beredar di masyarakat perlu dipahami secara hati-hati. H3N2 sendiri merupakan bagian dari influenza musiman dan bukan virus baru.




