Jangan Anggap Sepele! Psikolog Ungkap Batas Overthinking yang Bahaya

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Overthinking atau kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan mungkin pernah dialami banyak orang. Namun, ketika pikiran tersebut mulai mengganggu tidur, konsentrasi hingga aktivitas sehari-hari, kondisi ini sebaiknya tidak lagi dianggap sepele.

Psikolog klinis dewasa Miki Amrilya Wardati, S.Psi., M.Psi., Psikolog menyarankan individu yang mengalami overthinking hingga mengganggu keberfungsian sehari-hari untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.

“Perlu dikonsultasikan kalau misalkan ternyata overthinking itu sudah over-nya itu betul sesuai kata over dan memang mengganggu keberfungsian hidup sehari-hari,” kata Mitra Psikolog Halodoc itu dalam acara temu media di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Miki menjelaskan, overthinking atau rasa khawatir terhadap sesuatu yang sebenarnya masih dalam batas wajar tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan kesehatan mental.

Menurutnya, overthinking lebih tepat dilihat sebagai sebuah gejala. Karena itu, yang perlu diperhatikan adalah dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain sulit berkonsentrasi, muncul rasa takut untuk melakukan sesuatu, sulit tidur hingga merasa tidak nyaman ketika menjalani aktivitas.

“Ini nanti akan dibantu oleh profesional apakah overthinking ini disertai gejala lain atau tidak, sehingga nanti bisa ditarik diagnosa oleh profesional apakah ada gangguan tertentu atau tidak,” ia menjelaskan.

Kenali Perubahan Diri

Miki mengatakan, mengenali kondisi diri sendiri menjadi langkah penting. Dengan begitu, seseorang bisa lebih cepat menyadari jika muncul perubahan yang tidak biasa.

Hal tersebut termasuk ketika seseorang merasa pola pikir, perasaan atau perilakunya mulai berbeda dari biasanya.

“Kalau ada perubahan dan dirasa itu tidak biasa, apalagi mengganggu, di situ langsung bisa konsultasi pada profesional,” kata Miki.

Ia menambahkan, tidak semua orang yang mengalami overthinking berarti mengalami gangguan tertentu. Dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut dari tenaga profesional untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya.

“Nanti profesional yang akan mendiagnosa gangguan apa, apakah tadi depresi atau bipolar. Kita harus kenal sinyal tubuh kita, tapi kita juga harus mengkonsultasikan supaya tegak diagnosanya,” ia menjelaskan.

Karena itu, ketika overthinking mulai membuat seseorang kesulitan menjalani aktivitas normal, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional dapat menjadi pilihan.

Dengan pemeriksaan yang tepat, seseorang bisa mengetahui apakah keluhan yang dialami hanya berupa gejala sementara atau berkaitan dengan kondisi lain yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Ronalds Petrus Gerson
Tim Penulis & Editor
Ronalds Petrus Gerson
Apresiasi untuk Ronalds Petrus Gerson

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU