Indonesia Baru Punya 1.495 Psikiater, Satu Dokter Layani 180 Ribu Penduduk

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Akses terhadap layanan kesehatan jiwa di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari terbatasnya jumlah psikiater hingga distribusi tenaga profesional yang belum merata. Kondisi ini menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pemeriksaan dan penanganan gangguan kesehatan mental.

Berdasarkan data Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan (SISDMK) per 1 September 2026, Indonesia memiliki 1.495 psikiater. Jumlah tersebut setara dengan rasio satu psikiater untuk setiap 180 ribu penduduk.

Rasio itu masih jauh dari acuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni satu psikiater untuk setiap 30 ribu penduduk. Kesenjangan juga terlihat pada ketersediaan psikolog klinis di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Maria Endang Sumiwi, mengatakan jumlah psikolog klinis yang bertugas di puskesmas masih terbatas.

“Dari 3.513 psikolog klinis yang terdata, hanya 213 orang yang bertugas di puskesmas,” ujar Endang dalam keterangan resmi Kemenkes, dikutip Holopis.com, Senin (12/10).

Terbatasnya tenaga profesional tersebut terjadi di tengah masih rendahnya cakupan pengobatan bagi masyarakat yang mengalami depresi. Kemenkes mencatat, dari sekitar tiga juta orang dengan depresi di Indonesia, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan.

“Artinya, 9 dari 10 orang dengan depresi di Indonesia belum terjangkau layanan kesehatan,” jelas Endang.

Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen. Data tersebut menunjukkan masih perlunya upaya untuk memperluas akses terhadap layanan kesehatan jiwa agar masyarakat dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.

Kemenkes Perluas Skrining Kesehatan Jiwa

Untuk mendeteksi gangguan kesehatan jiwa sejak dini, Kemenkes memperluas skrining melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta layanan kesehatan bagi ibu hamil dan ibu pascapersalinan.

Hingga Oktober 2026, skrining kesehatan jiwa melalui program tersebut telah menjangkau lebih dari 71,8 juta orang. Dari hasil pemeriksaan, sebanyak 1,2 persen sasaran menunjukkan indikasi gejala depresi, sedangkan 0,9 persen lainnya menunjukkan indikasi gejala kecemasan.

Selain memperluas skrining, Kemenkes meluncurkan empat seri buku saku untuk membantu tenaga kesehatan menindaklanjuti hasil pemeriksaan. Panduan tersebut mencakup kelompok ibu hamil dan ibu pascapersalinan, anak dan remaja, orang dewasa, serta lanjut usia.

Endang mengatakan buku saku tersebut disusun bersama para ahli dari organisasi profesi untuk menjadi panduan praktis bagi tenaga kesehatan di puskesmas.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Vhina Noviyanti
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Muhammad Ibnu Idris
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU