Hari Jantung Sedunia 2026: Jangan Abaikan Deteksi Dini dan Pemeriksaan Kesehatan Rutin

0 Shares

JAKARTA, HOLOPIS.COM – Hari Jantung Sedunia atau World Heart Day diperingati setiap 29 September. Pada 2026, World Heart Federation (WHF) kembali mengangkat kampanye “Don’t Miss a Beat” untuk mengajak masyarakat mengenali tanda dan gejala, menjaga kesehatan jantung, dan mendorong pemerintah memperkuat kebijakan dan layanan kesehatan jantung.

Pesan tersebut disampaikan di tengah masih tingginya angka kematian akibat penyakit kardiovaskular atau penyakit jantung dan pembuluh darah dengan sekitar 20,5 juta kematian setiap tahun di dunia.

WHF juga menyebut banyak kematian akibat kardiovaskular berkaitan dengan faktor risiko yang sebenarnya dapat dicegah atau dikendalikan, sehingga pengenalan gejala dan upaya pencegahan menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jantung.

Salah satu faktor risiko yang menjadi perhatian adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi. Masalahnya, hipertensi kerap tidak menunjukkan gejala sehingga seseorang dapat tidak menyadari kondisinya sampai muncul komplikasi. Situasi tersebut tercermin dari hasil pemeriksaan kesehatan di Indonesia melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026.

1 Juta Warga yang Sebelumnya Sehat Terdeteksi Hipertensi lewat CKG

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 1 juta warga yang pada pemeriksaan sebelumnya tercatat sehat kini terdeteksi mengalami hipertensi. Temuan tersebut berasal dari pemeriksaan ulang terhadap 9,2 juta peserta CKG pada 2026 yang pada tahun sebelumnya tidak terdeteksi memiliki tekanan darah tinggi.

Selain menemukan kasus baru, Kemenkes juga mencatat perubahan kondisi pada peserta yang sebelumnya berada dalam kategori prehipertensi, yakni kondisi ketika tekanan darah seseorang berada di atas batas normal tetapi belum mencapai kategori hipertensi. Dari 1,3 juta peserta dengan status prehipertensi yang menjalani pemeriksaan ulang, sebanyak 247 ribu orang kini terdeteksi mengalami hipertensi.

Di sisi lain, pemeriksaan ulang juga menunjukkan adanya peserta yang berhasil mengendalikan kondisi tersebut. Dari 2,4 juta penderita hipertensi yang kembali menjalani pemeriksaan, sebanyak 1,1 juta orang berhasil mengendalikan tekanan darah hingga berada dalam rentang normal.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemeriksaan kesehatan secara berkala diperlukan untuk menemukan penyakit dan faktor risiko sebelum berkembang menjadi komplikasi. Menurutnya, sejumlah penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes tidak selalu menunjukkan gejala pada tahap awal.

Temuan dari CKG tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan rutin karena kondisi kesehatan seseorang dapat berubah dari waktu ke waktu. Pemeriksaan juga dapat membantu menemukan faktor risiko yang sebelumnya tidak disadari sehingga penanganan dapat dilakukan lebih awal.

Hampir 700 Ribu Serangan Jantung Terjadi Setiap Tahun di Indonesia

Pentingnya deteksi dini semakin terlihat ketika melihat besarnya beban penyakit jantung di Indonesia. Berdasarkan data yang digunakan Kemenkes pada 2026 melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, penyakit jantung masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian.

Data SKI 2023 juga menunjukkan prevalensi penyakit jantung di Indonesia tercatat sebesar 0,85 persen atau sekitar 8,5 per 1.000 penduduk. SKI juga mencatat rata-rata kejadian serangan jantung pada penyakit jantung koroner sebesar 222,3 kasus per 100.000 penduduk.

Selain prevalensi dan rata-rata kejadian serangan jantung, SKI 2023 juga mencatat jumlah penduduk yang terdiagnosis penyakit jantung berdasarkan kelompok usia. Data tersebut menunjukkan bahwa penyakit jantung tidak hanya ditemukan pada kelompok usia lanjut. Pada kelompok usia 25–34 tahun, tercatat 140.206 orang yang didiagnosis menderita penyakit jantung, sedikit lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 15–24 tahun yang mencapai 139.891 orang.

Data berdasarkan kelompok usia tersebut merupakan jumlah penduduk yang terdiagnosis penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter. Sementara itu, berdasarkan rata-rata kejadian serangan jantung pada penyakit jantung koroner, Kemenkes memperkirakan jumlah serangan jantung di Indonesia mencapai hampir 700 ribu kasus setiap tahun.

Tingginya jumlah kasus tersebut juga tercermin dari besarnya pembiayaan yang dikeluarkan untuk penanganan penyakit jantung. Berdasarkan data BPJS Kesehatan dalam Profil Kesehatan Indonesia 2024, pembiayaan untuk penyakit jantung mencapai sekitar Rp19,4 triliun.

Rangkaian data tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan jantung tidak cukup dilakukan ketika gejala mulai muncul. Pemeriksaan secara rutin dan kebiasaan hidup sehat perlu dilakukan sejak dini untuk membantu mengenali faktor risiko dan mengurangi kemungkinan terjadinya masalah kesehatan yang lebih serius.

Untuk itu, peringatan Hari Jantung Sedunia 2026 tidak hanya menjadi momentum untuk mengingat kembali pentingnya kesehatan jantung, tetapi juga mendorong masyarakat melakukan langkah nyata dalam menjaganya. Melalui kampanye “Don’t Miss a Beat” dan ajakan “Keep the Beat”, WHF mendorong masyarakat mengenali tanda dan gejala penyakit kardiovaskular sekaligus melakukan langkah kecil secara konsisten, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau menerapkan pilihan yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari.

0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Vhina Noviyanti
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Muhammad Ibnu Idris

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU