HOLOPIS.COM, JAKARTA – Tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Saat seseorang terlelap, tubuh tetap menjalankan berbagai proses biologis yang mendukung fungsi otak, pengaturan metabolisme, pemulihan fisik, dan kesehatan emosional. Karena itu, mencukupi waktu tidur merupakan bagian penting dari pola hidup sehat, sama seperti menjaga asupan makanan dan melakukan aktivitas fisik.
Namun, di tengah kesibukan bekerja, belajar, mengurus keluarga, hingga kebiasaan menggunakan telepon seluler pada malam hari, waktu tidur sering kali menjadi hal pertama yang dikorbankan. Sebagian orang terbiasa tidur larut dan bangun pagi, sementara lainnya berusaha mengganti kekurangan tidur dengan tidur lebih lama pada akhir pekan.
Pertanyaannya, berapa jam sebenarnya manusia perlu tidur? Apakah tidur harus dimulai sebelum pukul 22.00? Dan apa dampaknya jika seseorang terus-menerus tidur terlalu sedikit?
Sejumlah penelitian ilmiah memberikan petunjuk mengenai durasi tidur yang dianjurkan, pentingnya keteraturan waktu tidur, serta hubungan kebiasaan tidur dengan kesehatan jangka panjang.
Berapa Jam Tidur yang Ideal Setiap Hari?
Kebutuhan tidur berbeda menurut usia. Bayi dan anak-anak membutuhkan waktu tidur lebih panjang untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan otak, sedangkan orang dewasa umumnya membutuhkan sedikitnya tujuh jam tidur setiap malam.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merangkum rekomendasi durasi tidur berdasarkan kelompok usia sebagai berikut.
Kelompok usia
Rekomendasi tidur per hari
– Bayi baru lahir, 0–3 bulan
14–17 jam
– Bayi, 4–12 bulan
12–16 jam, termasuk tidur siang
– Balita, 1–2 tahun
11–14 jam, termasuk tidur siang
– Anak prasekolah, 3–5 tahun
10–13 jam, termasuk tidur siang



