HOLOPIS.COM, JAKARTA – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bisa membuat kualitas udara memburuk dalam waktu singkat. Selain membuat mata perih dan tenggorokan terasa tidak nyaman, paparan asap juga dapat memicu gangguan pernapasan, termasuk batuk, mengi hingga sesak napas.
Asap karhutla mengandung campuran gas dan partikel halus. Salah satu komponen yang menjadi perhatian adalah PM2.5, yakni partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. WHO menyebut paparan asap kebakaran dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan hingga gangguan yang lebih serius seperti sesak napas dan serangan asma.
1. Sesak Bisa Muncul Setelah Terpapar Asap
Saluran pernapasan dapat mengalami iritasi ketika seseorang menghirup udara yang dipenuhi asap. Reaksinya bisa berupa batuk, tenggorokan terasa gatal, hidung berair, mengi atau kesulitan bernapas.
CDC mencatat gangguan bernapas dapat muncul segera setelah seseorang menghirup asap kebakaran. Keluhan lain yang mungkin muncul antara lain mata terasa perih, sakit kepala, kelelahan, nyeri dada dan jantung berdebar.
Karena itu, sesak yang muncul ketika seseorang berada di lingkungan dengan asap pekat tidak sebaiknya diabaikan, terutama jika keluhan tersebut merupakan sesuatu yang baru dirasakan.
2. Tidak Semua Sesak Bisa Dianggap Ringan
Keluhan akibat asap memang bisa berbeda pada setiap orang. Ada yang hanya mengalami iritasi ringan, tetapi ada pula yang mengalami gangguan pernapasan lebih berat.
Orang dengan asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penyakit jantung, diabetes atau penyakit kronis lainnya perlu lebih waspada. Paparan asap dapat memperburuk gejala pada orang yang sebelumnya sudah memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Anak-anak, lansia dan ibu hamil juga termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak kesehatan akibat asap kebakaran.
3. Kapan Sesak Harus Diperiksakan?
Sesak napas yang tidak membaik setelah seseorang menjauh dari paparan asap perlu mendapat perhatian. Terlebih jika keluhan terus muncul atau justru semakin berat.
CDC menyarankan masyarakat menghubungi tenaga kesehatan apabila mengalami kesulitan bernapas, sesak napas, batuk yang tidak berhenti atau gejala lain yang tidak kunjung membaik. Untuk kondisi darurat seperti sesak berat atau nyeri dada, pertolongan medis segera diperlukan.
Jangan menunggu sampai kondisi semakin parah hanya karena menganggap keluhan tersebut sebagai efek biasa dari asap.
4. Kurangi Paparan Saat Asap Sedang Pekat
Ketika kondisi udara sedang dipenuhi asap, langkah utama yang bisa dilakukan adalah mengurangi paparan. Batasi aktivitas di luar ruangan dan tetap berada di dalam ruangan dengan kualitas udara yang lebih baik.
WHO menyarankan masyarakat mengikuti informasi dari otoritas setempat, mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mencari tempat dengan udara yang lebih bersih ketika kondisi asap sedang berat.
Jika memang harus keluar ketika paparan asap tinggi, penggunaan respirator yang terpasang dengan baik seperti N95 dapat membantu mengurangi paparan partikel asap.
5. Jangan Tunggu Sesak Semakin Berat
Paparan asap karhutla tidak hanya membuat udara terasa tidak nyaman, tetapi juga dapat memberikan dampak langsung terhadap sistem pernapasan. Karena itu, munculnya sesak, mengi, nyeri dada atau gangguan bernapas lainnya perlu diperhatikan.
Jika gejala baru muncul, semakin berat atau tidak membaik setelah menjauh dari asap, sebaiknya segera mencari bantuan medis. Terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil dan orang yang memiliki penyakit kronis, jangan menunggu kondisi memburuk sebelum mendapatkan pertolongan.



