Namun, BGN tak serta-merta menyalin model Jepang.
Pengalaman tersebut akan disesuaikan terlebih dahulu dengan kebutuhan dan karakteristik Indonesia.
“Ini menjadi satu pelajaran baru. Siapa tahu kita bisa juga meniru dengan langkah-langkah yang barangkali perlu di-adjust terhadap pelaksanaan MBG bagi kita,” kata Sudaryono.
Yang dipelajari BGN dari Jepang juga bukan sekadar bagaimana makanan dimasak dan dikirim.
Dalam praktiknya, terdapat keterlibatan berbagai unsur dalam ekosistem program makan siswa.
BGN mempelajari peran sekolah, guru, kepala sekolah, siswa hingga orang tua dalam mendukung keberlangsungan program.
Menurut Sudaryono, pengalaman tersebut penting untuk melihat bagaimana sebuah program makan bagi peserta didik bisa dijalankan secara lebih terintegrasi.
“Yang kita cari adalah model seperti apa yang kemudian terbaik yang bisa kita lakukan dengan yang sekarang sudah ada. Tinggal kita adopsi sedikit dan kita sesuaikan,” tuturnya.
Jepang bukan satu-satunya negara yang menjadi sumber pembelajaran BGN.
Sudaryono mengatakan BGN terbuka terhadap inovasi dan pengalaman dari berbagai negara yang memiliki program serupa.
Selain Jepang, pengalaman dari India, Brasil dan negara lainnya juga dapat dipelajari.
“BGN tidak menutup mata bahwa kita ada persoalan, tetapi kita juga tidak boleh menutup mata terhadap inovasi, pengalaman best practice, atau pengalaman terbaik dari banyak pihak, termasuk dari negara lain. Apakah Jepang, India, Brasil, dan banyak negara lainnya,” beber Sudaryono.
Kolaborasi Indonesia dengan JICA terkait pembelajaran program makan bagi siswa sendiri telah berlangsung sejak 2024 dan akan terus dilanjutkan.



