Dokter Tirta Ngegas, Negara Gak Becus Antisipasi dan Tangani Karhutla

1 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Influencer, dr Tirta Mandira Hudhi menyampaikan keresahannya secara tegas kepada pemerintahan yang saat ini dianggap tidak becus melakukan mitigasi dan penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), yang berdampak tidak hanya sekadar kerusakan hutan, akan tetapi terciptanya bencana polusi udara yang jelas membahayakan makhluk hidup, khususnya manusia.

Dalam statemennya, dr Tirta menegaskan bahwa pemerintah yang menjalankan negara wajib memenuhi dua aspek fundamental bagi bangsanya, yakni air bersih dan udara bersih.

“Sekedar mengingatkan negara dan pemerintah itu wajib menjamin kebutuhan warganya terutama soal dua hal yaitu; udara bersih dan air bersih,” kata dr Tirta dalam video yang ia unggah di akun media sosialnya, Rabu (21/10/2026).

Sayangnya, kualitas air bersih dan udara yang bersih tidak didapat oleh masyarakat di sekitar kawasan Karhutla. Di mana Indeks kualitas udara (AQI) dan polusi udara PM2.5 lebih dari 200 ribu.

Ditekankan pria yang biasa disapa Tirta Cipeng tersebut menegaskan bahwa jauh sebelum kemarau panjang El Nino, para pakar sudah memberikan early warning terkait dengan potensi kebakaran hutan dan lahan. Sayangnya peringatan dini tersebut seperti tidak disambut dengan mitigasi bencana sejak dini.

“Nah, seperti kita tahu dari beberapa waktu yang lalu sebelum tragedi karhutla, kebakaran hutan, hutan sing diobong dan kualitas udara yang menurun akibat kemarau panjang, sebenarnya para pakar sudah mengingatkan mengenai kemungkinan besar kemarau panjang dan El Nino, dari jauh-jauh bulan yang lalu, seharusnya saat itu sudah dilakukan mitigasi bencana,” tegasnya.

Oleh sebab itu, ia meminta agar pemerintah tidak sembarangan menyampaikan statemen ke publik, apalagi dengan melontarkan kata-kata yang justru sangat kontra produktif. Salah satunya menyatakan jika kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di 6 provinsi bukan kuasa mereka.

“Jadi jangan didebat lagi apalagi ngeles dengan ngomong, ini di luar kuasa kami. Betul, segala sesuatu yang di luar kehendak manusia itu adalah faktor X yang tidak bisa kita kontrol, tetapi ada yang namanya mitigasi,” ucapnya.

Ia pun mencontohkan bagaimana mitigasi sebenarnya perlu dilakukan sebelum terjadi bencana yang memicu kerugian besar.

“Kita bicara negara-negara lain, ada gempa bumi apakah kita bisa menebak gempa bumi, tentu tidak, tapi ada mitigasinya, mereka membuat bangunan-bangunan yang tahan gempa atau kalaupun jatuh tidak langsung mencederai, karena banyak orang meninggal dunia itu akibat kena bangunannya,” ketusnya.

Setelah terjadi kebakaran hutan, pemerintah juga terkesan kurang begitu mampu menanggulanginya dengan cepat. Padahal asap Karhutla terus muncul dan semakin memicu kualitas udara kotor kian memburuk lagi.

“Sama sepertinya kali ini, yang di suarakan oleh masyarakat adalah kenapa enggak kelar-kelar,” lanjutnya.

“Bayangin di Jakarta yang air quality index 150 aja sudah megap-megap. Kita bisa tanyakan ke poli paru tanya sejawat-sejawat dokter di poli paru, keluhan bronkitis kronis, iya kan, batuk, asma, bahkan faringitis, radang pita suara, itu meningkat di Jakarta yang kualitas udaranya 150. Bayangin yang kena dampak asap yang 500, 600, 1.000,” paparnya.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Muhammad Ibnu Idris
Apresiasi untuk Muhammad Ibnu Idris

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
1 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU