JAKARTA – Under-Secretary-General PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat Tom Fletcher mengatakan anak-anak dibom, terluka parah, kelaparan, terbakar hidup-hidup, terkubur di bawah reruntuhan rumah mereka, dan terpisah dari orang tua mereka.
Dalam sebuah acara di sela-sela Pekan Tingkat Tinggi Sidang Majelis Umum PBB (United Nations General Assembly/UNGA), Fletcher mengatakan para pekerja kemanusiaan harus diberi akses untuk menjangkau perempuan, anak-anak, dan warga lanjut usia di Gaza, yang tidak bisa hidup dari sekadar pernyataan keprihatinan.
“Di Gaza, anak-anak yang beruntung tidur di tenda. Di Gaza, tempat-tempat penampungan dibom, dan sekolah menjadi tempat yang mengerikan, merampas hak pendidikan lebih dari 700.000 anak,” kata Tom, dikutip Holopis.com, Kamis (25/9).
Fletcher menuturkan penderitaan anak-anak tidak hanya terjadi di Gaza tetapi juga di Tepi Barat, di mana anak-anak menghadapi tingkat kekerasan yang semakin meningkat, termasuk oleh para pemukim.
Fletcher mengatakan dunia yang tanpa hukum, tanpa martabat, dan tanpa harapan tidak boleh diwariskan kepada anak-anak.
“Kita tidak perlu memilih antara memerangi antisemitisme dan menuntut Israel untuk mematuhi hukum yang sama seperti negara lain,” lanjutnya.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan operasi militer Israel terus berlanjut di seluruh Jalur Gaza, termasuk di beberapa kawasan permukiman di Gaza City, di mana orang-orang dilaporkan tewas dan terluka serta infrastruktur mengalami kerusakan. Otoritas kesehatan Gaza telah memperingatkan bahwa bahan bakar sangat dibutuhkan untuk generator rumah sakit.
WHO Ungkapkan Kekerasan Meningkat di Rumah Sakit
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (23/9) melaporkan bahwa kekerasan yang meningkat di sekitar Rumah Sakit Al-Rantisi dan Rumah Sakit Ophthalmic di Gaza City membuat kedua fasilitas tersebut tidak berfungsi, tidak aman, dan tidak dapat diakses, memaksa para pasien dan staf mengungsi demi keselamatan.
“Dengan ratusan ribu orang masih berada di Gaza City dan sejumlah fasilitas kesehatan yang ditutup, lebih banyak nyawa akan hilang,” ungkap WHO.
Dari awal tahun ini hingga pertengahan September, WHO menyebut pihaknya mencatat 145 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Gaza, dengan lebih dari 100 tenaga kesehatan tewas.


