HOLOPIS.COM, JAKARTA – Harapan dimulainya kembali perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat masih belum menemui kepastian. Meski kedua negara sama-sama mengirim delegasi ke Doha, Qatar, Iran menegaskan belum ada agenda pertemuan resmi dengan pihak AS.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei pada Senin (29/6) mengatakan delegasi teknis Iran memang akan berada di Qatar pekan ini. Namun, kunjungan tersebut disebut tidak berkaitan dengan kedatangan delegasi Amerika Serikat.
“Kami tidak akan mengadakan pertemuan negosiasi apa pun di tingkat mana pun dengan pihak Amerika dalam beberapa hari ke depan,” tegas Baghaei, dikutip Holopis.com, Selasa (30/6).
Sementara itu, Gedung Putih menyatakan Presiden AS Donald Trump mengutus menantunya, Jared Kushner, bersama utusan khusus Steve Witkoff untuk memimpin tim negosiasi di Doha.
Perbedaan pernyataan dari kedua negara itu kembali menimbulkan pertanyaan mengenai kelanjutan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang disepakati pada 17 Juni lalu untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung selama empat bulan.
Dalam kesepakatan tersebut, Iran dan AS memberikan waktu sedikitnya 60 hari untuk melaksanakan 14 poin MoU, termasuk membahas program nuklir Iran, memperpanjang gencatan senjata yang disepakati pada April, serta merundingkan perjanjian damai permanen.
Namun, proses implementasinya berjalan lambat. Kedua negara saling menuding telah melanggar sejumlah poin yang telah disepakati.
Konflik sebelumnya juga sempat mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia sebelum perang pecah. Penutupan jalur tersebut sempat mendorong harga minyak dunia menembus 100 dolar AS per barel dan memicu tekanan terhadap perekonomian global.
Di sisi lain, Israel diketahui tidak ikut serta dalam perundingan damai antara AS dan Iran. Pemerintah Israel juga mengambil jarak dari kesepakatan tersebut.
Ketegangan antara Washington dan Teheran turut memengaruhi upaya penyelesaian konflik di Lebanon. Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri, yang merupakan sekutu Hizbullah yang didukung Iran, bahkan menyampaikan keraguannya terhadap kesepakatan terpisah yang dimediasi AS antara Lebanon dan Israel.
Meski Iran membantah adanya agenda pertemuan langsung dengan AS, seorang pejabat senior Iran mengatakan pembahasan di Doha kemungkinan akan difokuskan pada pengelolaan keamanan Selat Hormuz serta upaya meredakan ketegangan di kawasan.
Sementara itu, sumber lain yang mengetahui rencana tersebut menyebut tim teknis dari Iran dan Amerika Serikat diperkirakan akan menggelar pertemuan secara terpisah dengan mediator dari Qatar dan Pakistan pada Rabu (1/7).

