HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) di Indonesia mencapai 103.701 kasus hingga Mei 2026. Pada periode tersebut, sebanyak 52 orang meninggal akibat rabies, sementara sepanjang 2025 tercatat 241.220 kasus GHPR dengan 156 kematian.
Tingginya kasus gigitan tersebut membuat masyarakat perlu lebih waspada terhadap hewan yang berpotensi membawa virus rabies. Salah satunya dengan mengenali perubahan perilaku pada anjing dan kucing, termasuk ketika hewan mendadak agresif atau menggigit tanpa pemicu yang jelas.
Kewaspadaan terhadap rabies menjadi perhatian pada Hari Rabies Sedunia yang diperingati setiap 28 September. Pada 2026, peringatan tersebut mengusung tema “Stronger Together” yang menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak antara masyarakat, tenaga kesehatan, dokter hewan, pemerintah dan berbagai pihak lainnya dalam upaya mengeliminasi rabies.
Pengenalan gejala rabies pada hewan menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah risiko penularan. Dokter Hewan Praktisi Mentari Putri Nastiti mengatakan, hewan yang diduga terinfeksi rabies dapat mengalami perubahan perilaku dan fisik, seperti mengeluarkan air liur secara berlebihan, takut terhadap air dan cahaya, demam, hingga menjadi agresif.
“Kalau dari gejalanya itu biasanya ada hipersalivasi atau air liurnya berlebihan, kemudian hidrofobia atau takut air, fotofobia atau takut cahaya, kemudian demam dan juga perilaku agresif,” ujar Dokter Mentari saat diwawancarai Holopis.com, Senin (28/9).
Menurutnya, dari sejumlah gejala tersebut, perilaku agresif menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan karena dapat muncul secara tiba-tiba. Dokter Mentari menjelaskan, hewan yang terinfeksi rabies dapat menggigit tanpa adanya ancaman atau pemicu yang jelas.
“Jadi, kayak misalnya gampang marah-marah gitu atau gigit sana-sini kalau di anjing, ya. Itu gigit sana-sini tanpa ada pemicu yang khusus gitu. Beda kalau misalnya anjing itu lagi marah atau lagi merasa terancam, dia gigit, oke, wajar. Tapi ini kalau sudah terkena rabies, dia enggak ada ancaman pun, dia udah bisa gigit gitu,” jelasnya.
Perubahan perilaku tersebut menurutnya perlu menjadi perhatian, terutama ketika agresivitas muncul secara mendadak dan tidak sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi hewan. Ia juga mengimbau masyarakat agar dapat menghindari kontak langsung dengan hewan yang menunjukkan gejala mencurigakan untuk mengurangi risiko terkena gigitan, cakaran, maupun air liurnya menempel pada seseorang yang memiliki luka.
Kewaspadaan tersebut penting menurut Dokter Mentari, karena rabies tidak hanya dapat menular dari hewan kepada manusia. Tetapi juga infeksi virusnya dapat menyerang sistem saraf pusat seseorang secara cepat jika tidak ditangani dengan cepat dan benar.
Karena itu, Dokter Mentari mengimbau masyarakat agar hewan yang menunjukkan gejala yang mengarah pada rabies tidak sebaiknya ditangani sendiri. Hewan tersebut perlu segera dilaporkan kepada dokter hewan atau dinas terkait agar dapat diperiksa, ditangani, dan dipantau lebih lanjut.
“Hewan ini harus dilaporkan ke dokter hewan terdekat atau ke dinas pertanian, karena bukan cuma manusianya aja yang harus ditangani. Hewannya kan juga harus ditangani secara cepat,” tegasnya.
Penanganan terhadap hewan yang dicurigai rabies ini menurutnya penting dilakukan karena penyakit tersebut juga memiliki risiko yang serius bagi manusia. Ketika gejala sudah muncul, rabies dapat menyebabkan kondisi yang fatal, bahkan hingga kematian. Sehingga pencegahan dan penanganan setelah terjadinya paparan perlu dilakukan sesegera mungkin.
Jika seseorang mengalami gigitan atau cakaran dari hewan yang dicurigai membawa rabies, Dokter Mentari meminta korban perlu segera melakukan pertolongan pertama. Luka tersebut menurutnya harus segera dicuci menggunakan air mengalir dan antiseptik selama 15 menit, sebelum korban mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut di fasilitas kesehatan.





💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...