Hari Rabies Sedunia 2026, Kenali Langkah Pertama Usai Digigit Anjing atau Kucing

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Hari Rabies Sedunia atau World Rabies Day diperingati setiap 28 September. Pada 2026, peringatan tersebut mengusung tema “Stronger Together” dengan subtema di Indonesia, “Satu Aksi untuk Rabies”, yang menekankan pentingnya kolaborasi dan keterlibatan berbagai pihak dalam mencegah dan mengendalikan rabies.

Upaya tersebut mencakup vaksinasi hewan, edukasi masyarakat, pemantauan kasus, serta penanganan cepat terhadap orang yang mengalami paparan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan masyarakat adalah pemahaman mengenai langkah penanganan setelah mengalami gigitan atau cakaran hewan.

Gigitan atau cakaran anjing dan kucing yang berisiko membawa rabies dapat menjadi jalur penularan virus dari hewan ke manusia karena rabies merupakan virus yang menyerang sistem saraf. Virus ini dapat menyebabkan seseorang terkena demam, kebingungan, halusinasi, kelumpuhan, hingga kesulitan menelan dan bernapas. Setelah gejala muncul, penyakit ini bahkan dapat berujung pada kematian.

Karena itu, pertolongan pertama perlu dilakukan segera setelah seseorang mengalami gigitan atau cakaran. Dokter Hewan Praktisi Mentari Putri Nastiti mengatakan luka harus segera dibersihkan sebelum korban mendapatkan pemeriksaan di fasilitas kesehatan.

“Kalau pertama untuk kita yang digigit ya, itu harus dicuci dulu. Dicuci pakai antiseptik, terus air mengalir sampai 15 menit,” ujar Dokter Mentari saat diwawancarai Holopis.com, Senin (28/9).

Pencucian luka dengan air mengalir selama 15 menit ini, lanjutnya, penting dilakukan untuk membantu membersihkan luka dari virus yang mungkin masuk melalui gigitan atau cakaran. Setelah dibersihkan, luka bekas gigitan atau cakaran hewan tersebut dapat ditutup menggunakan kasa atau kapas.

“Setelah itu, kalau bisa gigitan itu ditutup. Ditutup boleh pakai kasa atau boleh pakai kapas,” tambah Dokter Mentari.

Setelah melakukan pertolongan pertama, Dokter Mentari mengimbau korban segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) sesuai hasil pemeriksaan. Tenaga kesehatan akan menentukan penanganan selanjutnya berdasarkan kondisi luka dan risiko paparan rabies. Selain itu, hewan yang menggigit atau mencakar juga perlu dilaporkan kepada pihak terkait untuk mendapatkan penanganan dan pemantauan.

“Dua-duanya harus dilaporin ke dinas. Kalau manusianya dilaporin ke puskesmas atau tenaga kesehatan yang terdekat. Kalau si hewan ini harus dilaporkan ke dokter hewan terdekat atau ke dinas pertanian,” ujarnya.

Penanganan terhadap hewan menurutnya menjadi bagian penting dalam pencegahan rabies karena virus rabies dapat berkembang dan menyerang sistem saraf dengan cepat setelah masuk ke tubuh manusia. Oleh karena itu, selain anjing, kucing juga perlu mendapat perhatian terhadap risiko terinfeksi rabies karena keduanya termasuk hewan yang sering berinteraksi langsung dengan manusia.

Karena itu, Dokter Mentari mengingatkan pemilik hewan untuk melakukan vaksinasi rabies secara rutin. Ia menyarankan vaksinasi rabies dilakukan satu tahun sekali dan dapat dibarengi dengan vaksinasi tahunan lainnya untuk anjing dan kucing.

“Kalau kami menyarankannya itu untuk satu tahun sekali dilakukan vaksinasi rabies. Kalau bisa sih dibarengi dengan vaksinasi tahunan juga untuk anjing dan kucingnya,” tuturnya.

Menurut Dokter Mentari, vaksinasi tidak hanya dilakukan sekali seumur hidup, melainkan harus rutin dilakukan. Vaksinasi dapat membantu membentuk antibodi pada tubuh hewan sehingga dapat menurunkan risiko terinfeksi rabies. Meski demikian, menurutnya, pemilik tetap perlu memperhatikan kondisi dan perubahan perilaku hewan yang belum maupun sudah mendapat vaksinasi.

0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Vhina Noviyanti
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Muhammad Ibnu Idris

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU