Hari Rabies Sedunia 2026, Dokter Hewan Ingatkan Pentingnya Vaksinasi Anjing dan Kucing

1 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Hari Rabies Sedunia diperingati setiap 28 September sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya rabies sekaligus pentingnya pencegahan penyakit tersebut. Pada 2026, peringatan ini mengusung tema “Stronger Together” yang menekankan pentingnya kerja sama antara masyarakat, tenaga kesehatan, dokter hewan, pemerintah dan berbagai pihak lainnya dalam upaya mengeliminasi rabies.

Rabies merupakan penyakit akibat virus yang menyerang sistem saraf dan dapat menular dari hewan ke manusia. Upaya pencegahannya tidak hanya dilakukan melalui penanganan terhadap manusia yang mengalami gigitan, tetapi juga dengan melakukan vaksinasi pada hewan, terutama anjing yang menjadi sumber utama penularan rabies pada manusia. WHO juga menargetkan eliminasi kematian manusia akibat rabies yang ditularkan anjing secara global pada 2030.

Dalam momentum Hari Rabies Sedunia tahun ini, kesadaran pemilik hewan peliharaan menjadi salah satu hal yang turut disoroti. Vaksinasi rutin pada anjing dan kucing dinilai penting untuk membantu memberikan perlindungan terhadap risiko paparan virus rabies.

Dokter Hewan Praktisi Mentari Putri Nastiti mengingatkan pemilik anjing dan kucing untuk tidak mengabaikan vaksinasi rabies. Menurutnya, vaksinasi perlu dilakukan secara rutin dan diulang setiap tahun untuk membantu mempertahankan perlindungan tubuh hewan terhadap virus rabies.

Meski telah mendapatkan vaksin, hewan tetap memiliki kemungkinan terinfeksi rabies. Namun, Mentari menjelaskan risiko tersebut lebih rendah dibandingkan hewan yang tidak mendapatkan vaksinasi.

“Vaksin itu membantu tubuh membentuk antibodi. Jadi bukan berarti setelah divaksin hewan tersebut 100 persen tidak akan terkena rabies, tetapi risikonya menjadi lebih rendah,” ujar Dokter Mentari saat diwawancarai Holopis.com, Senin (28/9).

Menurut Dokter Mentari, vaksinasi rabies bekerja dengan membantu tubuh hewan membentuk antibodi yang dapat melawan virus rabies. Karena itu, vaksinasi menjadi salah satu langkah penting untuk menurunkan risiko apabila hewan suatu saat terpapar virus tersebut.

Ia menegaskan vaksinasi bukan jaminan bahwa hewan akan sepenuhnya terbebas dari rabies. Namun, hewan yang telah mendapatkan vaksin memiliki perlindungan yang lebih baik dibandingkan hewan yang tidak divaksin.

Karena itu, Dokter Mentari menyarankan pemilik anjing dan kucing tidak menganggap vaksinasi cukup dilakukan satu kali. Vaksin rabies perlu diulang setiap tahun untuk membantu mempertahankan perlindungan tubuh hewan.

Kesadaran pemilik, lanjutnya, juga menjadi bagian penting dalam upaya mencegah penyebaran rabies. Sebab, masih ada pemilik hewan yang merasa vaksinasi tidak diperlukan hanya karena belum pernah menemukan kasus rabies di lingkungan tempat tinggalnya.

“Kadang pemilik berpikir karena di lingkungannya tidak ada kasus, jadi tidak perlu vaksin. Padahal kita tidak pernah tahu hewan kita akan bertemu dengan hewan apa ketika berada di luar rumah,” jelasnya.

Menurut Dokter Mentari, kondisi tersebut membuat vaksinasi rutin tetap diperlukan, terutama karena anjing dan kucing dapat berinteraksi dengan hewan lain. Risiko paparan virus tetap dapat muncul ketika hewan bertemu atau melakukan kontak dengan hewan yang membawa rabies.

Ia juga mengingatkan bahwa rabies bukan hanya menjadi ancaman bagi kesehatan hewan, tetapi juga manusia. Penyakit tersebut dapat menular melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi, termasuk ketika air liurnya mengenai luka atau bagian tubuh yang mengalami luka.

1 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Vhina Noviyanti
Darin Brenda Iskarina
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Darin Brenda Iskarina

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU