JAKARTA – Politisi senior Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Habil Marati meyakini bahwa pelaku makar, terorisme, dan pelaku pembakaran yang terlibat dalam aksi demonstrasi anarkis beberapa waktu lalu bukanlah dari kalangan mahasiswa.
“Jadi ketika kami berbicara sama mereka saya hakul yakin bahwa tidak mungkin pelaku makar, pelaku terorisme maupun pelaku pembakaran itu tidak mungkin mahasiswa ya kan,” kata Habil dalam podcast yang diunggah oleh kanal YouTube Refly Harun, seperti dikutip Holopis.com, Rabu (10/9).
Ia yakin para buruh juga bukan pelaku sesungguhnya dari aksi tersebut. Kata Habil, pada dasarnya mahasiswa merupakan orang yang memiliki pemikiran intelektual yang selalu menggunakan pendekatan ilmiah, dan hukum sebelum berbicara ataupun melakukan suatu tindakan. Sehingga menurutnya, tindakan yang bertentangan dengan aturan hukum tersebu tidak sejalan dengan pemikiran mahasiswa.
“Karena mahasiswa itu adalah basicnya intelektual kan. Basicnya adalah berbicara secara kaidah-kaidah ilmiah dan hukum. Tidak mungkin, buruh tidak mungkin,” ungkapnya.
Ia memberikan saran untuk membuktikan hal tersebut, upaya pertama yang harus dilakukan yaitu mengabaikan atau menolak asumsi publik bahwa pelaku dari tindakan tersebut adalah mahasiswa.
“Jadi adalah untuk membuktikan itu, pertama adalah kita harus ignore bahwa itu bukan mahasiswa. Ya kan harus kita kayak itu kan kita harus apa namanya, ignore kan kita tolak bahwa pelakunya bukan mahasiswa,” terangnya.
Lantas ia mempertanyakan siapa pelaku sebenarnya yang telah terlibat dalam aksi-aksi tersebut. Ia pun menegaskan, pembakaran yang terjadi secara jelas terlihat dalam berita-berita yang beredar di publik, dengan ciri pelaku yang mengenakan baju serba hitam.
“Pelakunya bukan buruh? Ya kan. Pelakunya bukan NGO. Lalu siapa? Siapa mereka-mereka ini? Pembakarannya kan jelas kan ada di berita itu, pembakaran pakai baju hitam-hitam kan. Kita ketahui siapa itu mereka itu,” jelasnya.
Lebih lanjut, kata Habil, pihak kepolisian bisa mengusut dan melakukan penyelidikan terhadap siapa yang melakukan pembakaran halte tersebut.
Habil mengungkapkan, upaya tersebut penting agar masyarakat bisa menjalani kehidupan dengan damai pada bangsa ini, dan juga memberikan kesempatan bagi Presiden RI Prabowo Subianto untuk melaksanakan pembangunan nasional tanpa adanya gangguan dari pihak manapun.
“Pembakaran halte itu kan polisi bisa menyidik, bisa melakukan penyelidikan siapa yang melakukan pembakaran-pembakaran itu, supaya kita pingin hidup tenang di negeri ini gitu kan. Ya kan, kita pingin hidup tenang, dan supaya juga Prabowo bisa membangun (negara – red) dengan tenang,” imbuhnya.
Sebagai informasi, beberapa waktu lalu aksi demonstrasi telah terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Aksi unjuk rasa tersebut dilakukan lantaran masyarakat menolak beberapa kebijakan pemerintah untuk diterapkan. Pada Kamis 28 Agustus 2025, para buruh melakukan aksi unjuk rasa sebab menginginkan undang-undang perburuhan dapat dipisahkan dari Omnibus Law.
Namun tak disangka-sangka, Demo tersebut menjadi ricuh lantaran ada oknum massa yang ikut turun ke lapangan untuk memprovokasi para buruh saat aksi unjuk rasa itu.
Dimana kericuhan itu bermula saat pihak kepolisian menembakkan gas air mata kepada seluruh massa dengan tujuan untuk membubarkan aksi Demonstrasi tersebut. Massa pun mulai berlarian untuk menghindari serangan gas air mata itu.
Tak sampai disitu saja, meski massa sempat terdistraksi karena adanya gas air mata , mereka pun turut membalas serangan water cannon itu dengan menggunakan botol-botol yang dijadikan sebagai bom molotov.
Aksi demonstrasi itu pun membuat kerusakan pada sejumlah halte bus di Jakarta, dimana terdapat 22 halte yang rusak, mulai dari 6 halte yang terbakar dan dijarah, serta 16 halte lainnya yang juga dirusak saat aksi unjuk rasa tersebut. Tidak hanya fasilitas umum saja yang rusak, salah satu pengemudi ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan turut menjadi korban yang dilindas menggunakan mobil taktis (rantis) Brimob saat aparat berusaha membubarkan massa.



