Ia mengingatkan bahwa kebakaran di lahan gambut memiliki tantangan tersendiri karena api dapat menyala kembali. Oleh sebab itu, keputusan mengenai metode penanganan harus mempertimbangkan kemampuan tim, kondisi medan, dan risiko terhadap keselamatan petugas.
Penggunaan sekat bakar, menurut pendekatan yang dijelaskannya, perlu menjadi bagian dari strategi pengendalian kebakaran yang terencana, bukan pengganti seluruh upaya pemadaman.
Minta Lahan Bekas Terbakar Tidak Dieksploitasi
Setelah restorasi gambut dan penguatan deteksi dini, Chanee menilai persoalan status lahan juga perlu menjadi bagian dari pembenahan kebijakan karhutla.
Ia mendorong adanya sistem yang mencegah lahan yang baru terbakar langsung dieksploitasi atau dialihkan untuk kepentingan tertentu tanpa mempertimbangkan penyebab kebakaran dan fungsi ekologisnya.
Menurutnya, upaya pencegahan karhutla tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat juga perlu berperan dalam menjaga hutan dan mengubah kebiasaan yang berpotensi memicu kebakaran.
Chanee mengapresiasi meningkatnya perhatian masyarakat terhadap persoalan hutan, termasuk melalui sumbangan dan aksi demonstrasi. Namun, ia mengingatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan seharusnya tidak muncul hanya ketika kebakaran menyebabkan kabut asap dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Dalam 20 tahun terakhir kita kehilangan belasan juta hektare demi perkebunan sawit, pertanyaan saya adalah kalau kita kehilangan jutaan hektar tanpa asap, apakah akan ada tetap demikian banyak orang yang peduli,” katanya.
Ia mengajak masyarakat untuk mempertahankan kepedulian terhadap hutan bahkan ketika tidak ada bencana yang secara langsung dirasakan.
“Jadi sekarang kepedulian tidak hanya saat bencana, tidak hanya saat sesak nafas, tetapi sebelumnya, kita peduli hutan atau tidak,” ujarnya.
Chanee juga meminta masyarakat menerima pembatasan penggunaan api ketika kondisi lingkungan berisiko tinggi, meskipun kebakaran belum terjadi dan asap belum muncul.
“Dan kita harus siap merubah kebiasaan menerima larangan api, walaupun kan belum ada asap, belum kebakaran kok enggak boleh bikin api, kok, harus kita terima,” pungkasnya.
Pernyataan Chanee tersebut menyoroti bahwa penanganan karhutla membutuhkan pendekatan jangka panjang, mulai dari pemulihan ekosistem gambut, perlindungan hutan, deteksi dini, koordinasi kelembagaan, hingga perubahan perilaku masyarakat.




