HOLOPIS.COM, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah berupaya memulihkan kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan masih tingginya aksi jual investor asing sepanjang 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, pemulihan kepercayaan investor asing tidak bisa hanya mengandalkan perbaikan kondisi pasar modal.
Menurutnya, prospek pertumbuhan ekonomi nasional juga menjadi faktor penting untuk membangun kembali keyakinan investor terhadap pasar Indonesia.
“Ini tentu tidak murni spesifik merupakan persoalan yang diakibatkan oleh kondisi pasar modal semata, tapi kita berharap confidence ini kita bangun bersama dari sisi, katakanlah, prospek pertumbuhan perekonomian nasional yang tentu kita harapkan semakin kuat dari waktu ke waktu,” kata Hasan kepada awak media di Jakarta, dikutip Holopis.com, Kamis (8/11/2026).
Selain prospek ekonomi, OJK melihat kondisi valuasi saham Indonesia saat ini dapat menjadi salah satu modal untuk menarik kembali minat investor asing.
Hasan menilai tingkat harga saham di pasar modal Indonesia telah membentuk keseimbangan baru apabila dibandingkan dengan posisi pada akhir 2025 dan awal 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat valuasi saham Indonesia relatif menarik bagi investor yang mempertimbangkan kembali masuk ke pasar modal domestik.
“Sekarang bahkan tingkat price earning ratio (PER) kita mungkin menjadi salah satu pasar dengan tingkat rata-rata PER termurah di kawasan. Dan ini juga menjadi modal untuk* regaining attract* minat dari para investor ke pasar modal kita ke depan,” katanya.
Upaya memulihkan kepercayaan investor asing tersebut dilakukan ketika aliran dana asing masih menunjukkan tekanan terhadap pasar saham Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan, investor asing masih mencatatkan posisi jual bersih sekitar Rp3,1 triliun sepanjang Oktober 2026. Sementara secara kumulatif sepanjang tahun ini, posisi jual bersih investor asing telah mencapai Rp110,28 triliun.
Tekanan tersebut juga tercermin dari pergerakan IHSG pada perdagangan Kamis (8/10/2026). IHSG ditutup anjlok 1,88 persen atau 115,44 poin ke level 6.031,28.
Sepanjang perdagangan, IHSG terus berada di zona merah. Indeks bergerak pada rentang 6.179,09 hingga menyentuh level terendah sekaligus posisi penutupan di 6.031,28.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi perdagangan mencapai Rp12,72 triliun. Sebanyak 60,82 miliar saham berpindah tangan dengan frekuensi transaksi mencapai 1,95 juta kali.



