HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini berada di titik krusial setelah indeks kembali menguji level psikologis 6.000. Di tengah tekanan tersebut, investor juga masih menanti sinyal arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) melalui risalah rapat FOMC dan komentar sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan perhatian pasar global akan tertuju pada FOMC Minutes yang dijadwalkan rilis Rabu (7/10/2026).
Risalah tersebut akan memberikan gambaran mengenai perdebatan internal The Fed ketika menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% pada September lalu.
Perhatian investor semakin besar setelah data tenaga kerja AS terbaru menunjukkan perlambatan yang jauh lebih tajam dari perkiraan.
Payrolls AS September hanya bertambah 29.000, jauh di bawah konsensus sekitar 90.000. Sementara itu, tingkat pengangguran naik menjadi 4,2% dari sebelumnya 4,1%, sedangkan pertumbuhan upah tahunan melambat menjadi 3,0%.
“Data ini langsung menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada Oktober. Namun, pasar belum bisa sepenuhnya bernapas lega karena pada saat yang sama yield US Treasury 10 tahun sempat menembus 5,34%, level tertinggi sejak 2002,“ kata Imam dalam keterangannya, dikutip Holopis.com, Senin (5/10/2026).
Menurut Imam, kondisi tersebut menciptakan dilema bagi The Fed. Di satu sisi, pelemahan pasar tenaga kerja dapat menjadi alasan untuk menahan kenaikan suku bunga. Namun di sisi lain, inflasi dan harga energi yang masih tinggi dapat membuat bank sentral AS tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Sebanyak 16 dari 18 pembuat kebijakan The Fed sebelumnya memproyeksikan masih ada satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir 2026. Karena itu, investor kini akan mencermati apakah pandangan tersebut berubah setelah data tenaga kerja terbaru.
Jika FOMC Minutes menunjukkan inflasi masih menjadi risiko utama yang membutuhkan pengetatan lanjutan, yield US Treasury berpotensi kembali meningkat. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk saham dan pasar negara berkembang.
Sebaliknya, apabila pelemahan pasar tenaga kerja menjadi perhatian yang lebih dominan, peluang penundaan kenaikan suku bunga akan semakin besar. Skenario tersebut berpotensi memberikan sentimen positif bagi saham dan emerging markets melalui penurunan yield serta pelemahan dolar AS.
Selain FOMC Minutes, investor juga akan mencermati komentar sejumlah pejabat The Fed, termasuk Williams, Bowman, dan Logan, sepanjang pekan ini.
Pasar akan mencari petunjuk apakah para pejabat tersebut mulai melihat pelemahan tenaga kerja sebagai alasan untuk menghentikan kenaikan suku bunga atau tetap menempatkan inflasi sebagai ancaman utama.
Selain agenda The Fed, data ADP Employment Change Weekly pada Selasa (6/10/2026) juga menjadi perhatian pasar.



