HOLOPIS.COM, MAUMERE — Pemerintah bergerak cepat mendata rumah warga yang rusak akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu pekan lalu.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut proses pendataan kini dikebut dan dilakukan bersamaan dengan penanganan warga pada fase tanggap darurat.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pendataan diperlukan agar kebutuhan masyarakat terdampak bisa segera diketahui secara lebih jelas.
Data tersebut nantinya juga menjadi dasar pemerintah untuk menentukan langkah penanganan berikutnya, termasuk kebutuhan petugas yang akan melakukan pengecekan langsung di lapangan.
“Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat diidentifikasi secara cepat dan akurat, sekaligus menjadi dasar dalam menentukan dukungan penanganan pada tahapan berikutnya,” ujar Berton melalui keterangan resmi, Minggu (23/8).
53.971 Rumah Terdampak
Berdasarkan data sementara per Sabtu (22/8), BNPB mencatat sebanyak 53.971 rumah mengalami kerusakan akibat gempa NTT.
Rinciannya terdiri dari:
- 19.006 rumah rusak berat
- 11.777 rumah rusak sedang
- 23.188 rumah rusak ringan
Kerusakan tersebar di tujuh kabupaten terdampak.
Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah rumah rusak terbanyak, yakni 17.039 unit. Dari jumlah tersebut, 6.713 rumah masuk kategori rusak berat, 4.496 rusak sedang, dan 5.830 rusak ringan.
Berikutnya ada Manggarai Barat dengan 9.402 rumah rusak, terdiri atas 3.334 rusak berat, 1.438 rusak sedang, dan 4.630 rusak ringan.
Sementara Ngada mencatat 8.129 rumah rusak. Sebanyak 1.973 rumah rusak berat, 1.678 rusak sedang, dan 4.478 rusak ringan.
Di Manggarai, jumlah rumah rusak mencapai 7.045 unit. Rinciannya 3.582 rusak berat, 2.113 rusak sedang, dan 1.350 rusak ringan.
Kemudian Nagekeo mencatat 4.829 rumah rusak, dengan 1.702 rusak berat, 560 rusak sedang, dan 2.567 rusak ringan.
Di Ende, tercatat 3.953 rumah rusak, terdiri atas 763 rusak berat, 870 rusak sedang, dan 2.320 rusak ringan.
Sedangkan Sikka mencatat 3.574 rumah rusak, dengan 939 rusak berat, 622 rusak sedang, dan 2.013 rusak ringan.
Data Rusak Berat Jadi Dasar Penentuan Huntara
Pendataan rumah tidak hanya untuk mengetahui jumlah kerusakan. Untuk rumah yang masuk kategori rusak berat, data tersebut juga akan menjadi salah satu dasar dalam menghitung kebutuhan hunian sementara (huntara) maupun Dana Tunggu Hunian (DTH).




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...