Teknologi Dry Ice Mulai Diuji, Bisakah Bantu Kurangi Asap Karhutla?

0 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah mulai menguji penggunaan dry ice atau es kering dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu mengurangi dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Teknologi ini dicoba sebagai alternatif penyemaian awan menggunakan garam yang selama ini diterapkan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan penggunaan es kering memanfaatkan suhu yang sangat rendah untuk membantu pembentukan kristal es di dalam awan, sehingga berpotensi mendukung terjadinya hujan.

Berton menjelaskan, dry ice merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat dengan suhu yang dapat mencapai di bawah minus 78 derajat Celsius. Karakteristik tersebut diharapkan dapat membantu proses pembentukan kristal es di awan.

“Es ini sifatnya sangat solid dan temperaturnya sangat ekstrem, bisa di bawah minus 78 derajat Celsius. Ini merupakan karbon dioksida yang padat. Suhu dinginnya secara cepat dapat memicu pembentukan kristal es di awan hingga turun menjadi hujan secara alami dan ramah lingkungan,” ujar Berton dalam konferensi pers, Selasa (20/10).

Dalam pelaksanaan OMC pada 19 Oktober 2026, BNPB mencatat penyemaian dilakukan di dua provinsi dengan kombinasi dry ice dan garam.

Di Kalimantan Tengah, operasi berlangsung dalam lima sorti dengan penggunaan 1.600 kilogram dry ice dan 300 kilogram garam.

Sementara itu, di Sumatera Selatan, OMC dilaksanakan dalam tiga sorti. Dua sorti menggunakan total 1.600 kilogram dry ice, sedangkan satu sorti lainnya menggunakan 800 kilogram garam.

Selain memicu hujan, penggunaan dry ice diharapkan bisa membantu memperbaiki jarak pandang yang terganggu akibat asap karhutla. Namun, hasil pelaksanaan OMC tetap bergantung pada kondisi atmosfer di wilayah sasaran.

“Keuntungan dari dry ice ini, dampaknya bisa segera kita lihat, di mana visibility atau jarak pandang membaik. Tentu, dry ice ini bisa menarik bibit-bibit air, sehingga berpotensi menemukan hujan di angkasa, sehingga OMC juga bisa dilaksanakan dengan segera,” jelasnya.

Meski begitu, teknologi ini bukan berarti bisa langsung diterapkan di semua wilayah yang terdampak karhutla. Menurut Berton, penyemaian membutuhkan awan dengan kondisi yang sesuai agar operasi dapat dilakukan.

Tak Semua Wilayah Bisa Disemai

Berton mencontohkan, operasi modifikasi cuaca di Riau telah berakhir pada 25 September 2026 karena hujan alami sudah terjadi di wilayah tersebut. Sebaliknya, penyemaian di Jambi belum dapat dilakukan lantaran kondisi awan dinilai tidak mendukung.

“Untuk OMC di Riau sudah berakhir pada 25 September 2026, karena memang di sana sudah ada hujan alami yang terjadi. Sedangkan di Jambi kita tidak bisa melakukan penyemaian ataupun melakukan OMC, mengingat di sana tidak ada awan yang kurang mendukung, serta adanya feasibility yang relatif rendah,” kata dia.

Uji coba penggunaan dry ice ini menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mendukung penanganan dampak karhutla. Efektivitasnya tetap perlu dilihat berdasarkan hasil operasi serta kondisi cuaca di masing-masing wilayah.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Ronalds Petrus Gerson
Tim Penulis & Editor
Ronalds Petrus Gerson
Apresiasi untuk Ronalds Petrus Gerson

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKMIklan: Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--
YANG BARU