JAKARTA – Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan pandangan Indonesia terkait penguatan ketahanan global, inovasi teknologi, kerja sama multilateral, dan keberlanjutan dalam forum BRICS Foreign Ministers Meeting (FMM) 2026 pada 14 Mei 2026.
Dalam pernyataannya, Sugiono menegaskan pentingnya BRICS memperkuat arsitektur kerja sama ekonomi guna menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks.
“Ketahanan membutuhkan arsitektur BRICS yang kuat untuk memperkuat konektivitas ekonomi serta menjamin ketahanan pangan dan energi,” ujar Sugiono melalui pernyataan resminya.
Selain itu, Indonesia juga menyoroti pentingnya peran BRICS dalam menjembatani kesenjangan digital antarnegara berkembang. Sugiono menilai BRICS harus mampu mengambil peran strategis dalam pembentukan tata kelola global terhadap teknologi-teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurutnya, negara-negara berkembang tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi, tetapi harus ikut menentukan arah kebijakan dan regulasi global di bidang teknologi digital.
Sugiono juga menegaskan bahwa BRICS harus tetap menjadi ruang kerja sama multilateral yang konstruktif di tengah dinamika geopolitik internasional saat ini.
“BRICS harus tetap menjadi platform multilateralisme konstruktif,” katanya.

Dalam forum tersebut, Menlu RI turut menekankan bahwa agenda keberlanjutan global harus dibangun dengan prinsip keadilan sebagai fondasi utama.
Ia menilai pembangunan berkelanjutan tidak boleh meninggalkan negara-negara berkembang, termasuk dalam akses terhadap pembiayaan, teknologi, maupun peluang ekonomi global.
Seiring semakin meluasnya keanggotaan BRICS dan meningkatnya representasi negara-negara Global South, Sugiono juga mendorong agar BRICS memperkuat suara negara berkembang dalam membentuk tatanan global masa depan.
Menurutnya, negara-negara berkembang harus memiliki posisi yang lebih kuat dalam menentukan arah kebijakan ekonomi, teknologi, dan geopolitik dunia.


