Heboh Topping Croissant Mirip Rambut Kemaluan, Aslinya Fat Choy! Begini Asal-usul dan Faktanya

0 Shares

JAKARTA, HOLOPIS.COM Ada croissant mirip rambut kemaluan ternyata memakai fat choy. Simak asal-usul, fakta unik, manfaat, dan alasan bahan ini jadi viral.

Croissant dengan topping menyerupai rambut kemaluan tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Pastry yang populer dengan sebutan Hair Croissant atau Croissant Pattaya itu memicu rasa penasaran sekaligus perdebatan karena tampilannya yang dinilai tidak biasa.

Banyak warganet mengira helaian hitam yang menutupi permukaan croissant tersebut merupakan rambut manusia, namun anggapan itu keliru.

Topping yang digunakan sebenarnya adalah fat choy, bahan pangan tradisional yang telah lama dikenal dalam kuliner masyarakat Tionghoa.

Popularitas fat choy kembali mencuat setelah sebuah toko roti di Pattaya, Thailand, menyajikannya sebagai topping croissant.

- Advertisement -

Kreasi tersebut langsung viral karena tampilannya yang sangat menyerupai rambut sehingga menuai beragam komentar dari pengguna media sosial.

Meski memancing kontroversi secara visual, fat choy bukanlah bahan asing di dunia kuliner Asia.

Bahan ini telah digunakan selama ratusan tahun dalam berbagai hidangan tradisional, terutama saat perayaan Tahun Baru Imlek.

Fat choy memiliki sejumlah nama lain, di antaranya fat choi, fa cai, black moss, atau sayuran rambut.

Julukan tersebut muncul karena bentuknya yang berupa helaian tipis berwarna hitam sehingga menyerupai rambut panjang.

Sekilas tampilannya memang membuat banyak orang salah paham.

Setelah dikeringkan, fat choy tampak seperti kumpulan rambut manusia.

Namun sebenarnya bahan tersebut bukan rambut maupun rumput laut.

Secara ilmiah, fat choy merupakan organisme bernama Nostoc flagelliforme, yaitu kelompok sianobakteri darat atau bakteri yang mampu melakukan fotosintesis.

Karena bentuknya yang menyerupai ganggang, masyarakat sering menyebutnya sebagai lumut hitam atau black moss.

Organisme ini tumbuh secara alami di wilayah beriklim kering hingga semi-kering, terutama di Mongolia Dalam, Ningxia, Qinghai, Gansu, dan Xinjiang di China.

Fat choy biasanya dipanen dalam kondisi kering, kemudian dipasarkan sebagai bahan masakan.

Sebelum diolah, bahan ini harus direndam terlebih dahulu hingga teksturnya kembali lunak.

Saat dimasak bersama kaldu atau saus, bentuknya tetap menyerupai benang hitam, tetapi teksturnya menjadi lembut dan sedikit kenyal dengan cita rasa gurih yang ringan, mirip rumput laut.

Di balik tampilannya yang unik, fat choy memiliki nilai budaya yang sangat kuat dalam tradisi masyarakat Tionghoa.

Dalam dialek Kanton, pelafalan kata fat choy terdengar mirip dengan ungkapan yang berarti “menjadi kaya” atau “mendatangkan rezeki”.

Kesamaan bunyi tersebut membuat bahan pangan ini dipercaya sebagai simbol keberuntungan, kemakmuran, dan harapan akan rezeki yang melimpah.

Karena alasan itulah fat choy hampir selalu hadir dalam berbagai hidangan saat perayaan Tahun Baru Imlek.

Biasanya fat choy dimasak bersama tiram kering, jamur shiitake, selada, maupun berbagai hidangan rebus khas Tionghoa.

Selain itu, bahan ini juga menjadi salah satu komponen dalam poon choi, hidangan tradisional berisi aneka bahan makanan yang disusun berlapis di dalam wadah besar.

Selama bertahun-tahun, fat choy dikenal bukan karena rasanya yang kuat, melainkan karena filosofi keberuntungan yang melekat padanya.

Topping Croissant

Popularitas fat choy kembali meningkat setelah dimanfaatkan sebagai topping croissant oleh sebuah toko roti di Pattaya, Thailand.

Dalam kreasi tersebut, fat choy dipadukan dengan krim lembut di atas croissant sehingga tampilannya menyerupai rambut yang terurai.

Visual tersebut langsung menarik perhatian pengguna media sosial.

Sebagian menganggap tampilannya kreatif, sementara sebagian lainnya merasa jijik karena dinilai menyerupai rambut kemaluan.

Meski demikian, pelanggan yang telah mencicipi croissant tersebut justru memberikan tanggapan berbeda.

Fat choy disebut tidak memiliki rasa yang menyengat.

Sebaliknya, bahan ini menghadirkan sentuhan gurih yang lembut sehingga mampu menyeimbangkan rasa manis dari krim dan lapisan croissant.

Karakter rasanya yang ringan membuat fat choy tidak mendominasi, melainkan hanya memperkaya cita rasa pastry tersebut.

Sebelum ramai sebagai topping croissant, fat choy juga sempat viral melalui sejumlah unggahan TikTok.

Dalam video tersebut terlihat seseorang memasak bahan yang bentuknya menyerupai rambut panjang berwarna hitam.

Unggahan itu memicu banyak pertanyaan dari warganet yang mengira bahan tersebut adalah rambut manusia.

Namun sejumlah pengguna media sosial kemudian menjelaskan bahwa bahan tersebut merupakan fat choy atau sayur rambut yang memang lazim dikonsumsi di beberapa negara Asia.

Video tersebut menjadi salah satu penyebab meningkatnya rasa penasaran masyarakat terhadap bahan pangan tradisional tersebut.

Semakin Langka

Meski populer dalam tradisi kuliner Tionghoa, keberadaan fat choy kini semakin sulit ditemukan di pasaran.

Di Singapura, misalnya, volume impor fat choy terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Kelangkaan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Salah satunya adalah maraknya produk palsu yang dibuat dari bahan dasar pati sehingga menyerupai fat choy asli.

Sejumlah penelitian bahkan menemukan banyak produk yang dijual di pasar ternyata bukan fat choy asli.

Selain itu, pemerintah China juga telah melarang pemanenan fat choy di sejumlah wilayah karena dinilai merusak lingkungan.

Proses pengambilan fat choy membutuhkan penggalian area yang sangat luas untuk memperoleh hasil dalam jumlah kecil.

Aktivitas tersebut mengakibatkan vegetasi rusak, meningkatkan risiko erosi tanah, hingga mempercepat proses penggurunan di beberapa kawasan.

Karena alasan itulah pengawasan terhadap perdagangan fat choy kini semakin ketat.

Fat choy juga sempat menjadi perhatian setelah muncul penelitian yang menyebutkan adanya kandungan asam amino tertentu yang diduga berpotensi memengaruhi fungsi sel saraf.

Namun hingga kini, kaitan antara senyawa tersebut dengan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer maupun Parkinson masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan dan belum menghasilkan kesimpulan yang benar-benar pasti.

Meski demikian, penggunaan fat choy sebagai bahan makanan tetap berlangsung di sejumlah negara, terutama dalam hidangan tradisional yang disajikan pada momen-momen istimewa.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU