DENPASAR, HOLOPIS.COM – Twibbon MPLS salah satu SMK di Bali viral di media sosial. Pose seksi sejumlah peserta memicu perdebatan dan beragam reaksi dari warganet.
Unggahan twibbon Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) milik SMK PGRI 5 Denpasar, Bali, viral di media sosial dan memicu perdebatan di kalangan warganet.
Sorotan publik bukan tertuju pada desain twibbon, melainkan pose serta gaya berpakaian sejumlah siswi yang dinilai terlalu dewasa dan tidak mencerminkan citra pelajar.
Perbincangan bermula setelah akun Threads @ariand0xw mengunggah tangkapan layar deretan twibbon peserta MPLS.
Dalam unggahan tersebut, pemilik akun mempertanyakan apakah gaya foto para siswa memang menjadi tren atau justru merupakan arahan dari pihak sekolah.
“Ini fenomena baru ya? Atau sudah wajar di Bali? Baru lihat salah satu postingan MPLS yang dihujat netizen gara-gara fotonya dianggap vulgar. Ternyata semuanya begini. Ini memang disuruh tampil seperti ini sama sekolahnya atau bagaimana sih?,” tulisnya.
Unggahan itu kemudian ramai dibagikan ulang ke berbagai platform, termasuk X (Twitter), sehingga menuai ribuan komentar dari warganet.
Sejumlah netizen mengkritik penampilan beberapa peserta yang dianggap kurang sesuai untuk kegiatan sekolah.
Beberapa komentar yang ramai beredar di X di antaranya:
“MPLS kok konsepnya kayak sesi foto model, miris.”
“Kalau memang bukan arahan sekolah, orang tua juga harus ikut mengawasi anak saat unggah foto.”
“Jangan langsung salahkan sekolah dulu, bisa jadi itu pilihan siswanya sendiri.”
Di tengah ramainya kritik, pihak SMK PGRI 5 Denpasar langsung memberikan klarifikasi.
Kepala sekolah Nuning Kurniawati menegaskan bahwa sekolah tidak pernah mengarahkan siswa mengenakan pakaian terbuka ataupun berpose vulgar saat membuat twibbon MPLS.
Menurut Nuning, panitia sebelumnya telah memberikan contoh pembuatan twibbon dan video perkenalan dengan mengenakan pakaian yang sopan, seperti seragam sekolah asal, kebaya, maupun busana tertutup lainnya.
“Kalau seandainya memang nanti sore belum diganti, kami akan evaluasi lagi. Kalau masih, kami adakan pemanggilan,” ujar Nuning kepada wartawan di Denpasar, Senin (13/07).
Ia juga mengungkapkan bahwa sekolah telah melakukan investigasi internal.
Sejumlah siswi yang fotonya menjadi sorotan telah diminta mengganti foto profil twibbon mereka.
Bahkan, ada satu akun yang masih ditelusuri karena identitas pemiliknya belum dapat dipastikan sebagai peserta didik di sekolah tersebut.
Pihak sekolah menambahkan bahwa salah satu materi dalam MPLS tahun ini adalah edukasi mengenai etika bermedia sosial agar siswa lebih bijak dalam mengunggah konten di ruang digital.


