JAKARTA – Jumlah masyarakat Gaza yang menderita karena serangan Israel sudah tidak bisa dihitung lagi. Tak hanya sekedar jumlah korban meninggal, luka-luka, dan yang kehilangan tempat tinggal, namun berbagai korban, tak peduli gender, agama dan usia, semua terdampak dalam perang yang dinilai sebagai tindakan genosida tersebut.
Salah satu kaum yang paling menderita dan terkena dampak paling besar, seperti kelaparan karena sulitnya bantuan sampai, adalah kaum lanjut usia. Salah satu lansia bernama Ibrahim Abu Naji pun harus rela tidur beralaskan kardus tipis, di dalam ruangan yang penuh sesak.
Badannya terasa sakit karena lantai yang keras, dan tubuhnya yang ringkih berjuang untuk merawat sembilan anak dan cucu yang tidur berimpit di dekatnya.
Di luar, langit-langit bergetar setiap kali ada serangan udara Israel. Pria berusia 65 tahun itu menatap ruangan yang temaram sambil bertanya dalam hati,
“Akankah kita selamat hari ini?,” katanya, dikutip Holopis.com, Jum’at (23/5).
Terpaksa meninggalkan rumahnya beberapa kali, Ibrahim mengungsi dari permukiman Shuja’iyya di Gaza tengah, kemudian menuju Rafah, dan akhirnya tiba di Gaza City.
“Penderitaan ini tidak seperti yang pernah saya alami, bahkan dalam perang-perang sebelumnya. Tidak ada lagi tempat yang aman,” kata Ibrahim.
Saat konflik di Gaza memasuki bulan ke-19, warga lanjut usia (lansia) menghadapi kelaparan yang kian parah, pengungsian berulang kali, kurangnya perawatan medis, dan ancaman tanpa henti terhadap keselamatan mereka dalam apa yang disebut sebagai krisis kemanusiaan terbesar dalam hidup mereka.
Di rumahnya yang rusak di Kota Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, seorang warga bernama Dalal al-Naji (84) duduk terbungkus selimut tipis yang nyaris tak dapat melindunginya dari hawa dingin. Suara wanita itu bergetar saat menggambarkan migrasi paksa yang belum lama ini dialaminya.
“Kami sudah tua. Kami tidak bisa lari saat bom jatuh. Kami tidak bisa berdiri berjam-jam dalam antrean makanan,” tutur Dalal.
“Sebuah roket jatuh hanya beberapa meter dari rumah kami baru-baru ini. Saya pikir jantung saya akan berhenti. Saya tidak bisa bangun sampai anak laki-laki saya menggendong saya,” lanjutnya.
Sebagai informasi Sobat Holopis, Israel menghentikan masuknya barang dan pasokan ke Gaza pada 2 Maret, setelah berakhirnya fase pertama perjanjian gencatan senjata dengan Hamas pada Januari. Israel melanjutkan serangan ke Gaza pada 18 Maret, yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 3.300 orang dan melukai lebih dari 9.350 lainnya, menurut otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza.
Kemudian PM Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Israel akan mengizinkan masuknya sejumlah bantuan ‘minimal dan mendasar’ ke Gaza untuk mencegah kelarapan massal. Kemudian, lima truk bantuan PBB memasuki Gaza melalui perlintasan perbatasan Kerem Shalom, Israel, pada Senin tersebut setelah menjalani pemeriksaan keamanan.


