JHOLOPIS.COM, JAKARTA – Jangan remehkan cuaca panas! Hindari kesalahan saat liburan musim kemarau agar terhindar dari dehidrasi, kulit terbakar, dan heatstroke.
Liburan saat musim kemarau memang terasa menyenangkan.
Langit cerah dan minim hujan membuat banyak orang memilih menghabiskan waktu di pantai, pegunungan, hingga tempat wisata alam.
Namun di balik cuaca yang tampak bersahabat, ada ancaman serius yang sering diabaikan wisatawan, yakni heatstroke akibat paparan panas berlebih.
Banyak orang tanpa sadar melakukan kebiasaan yang justru meningkatkan risiko dehidrasi hingga serangan heatstroke.
Mulai dari lupa memakai sunscreen, malas minum air putih, hingga nekat beraktivitas di bawah terik matahari saat siang bolong.
Paparan sinar ultraviolet (UV) pada musim kemarau diketahui jauh lebih tinggi dibandingkan biasanya.
Jika tubuh terus-menerus terpapar tanpa perlindungan, risikonya bukan hanya kulit terbakar, tetapi juga kelelahan akibat panas, dehidrasi, bahkan heatstroke yang dapat membahayakan keselamatan.
Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan wisatawan adalah menganggap sunscreen hanya pelengkap.
Padahal, tabir surya dengan minimal SPF 30 menjadi perlindungan utama untuk mengurangi dampak buruk sinar UV.
Penggunaannya juga perlu diulang setiap dua jam, terutama setelah berenang atau berkeringat.
Tak hanya itu, banyak wisatawan juga enggan mengenakan topi atau kacamata hitam karena dianggap mengganggu penampilan.
Padahal, kedua aksesori tersebut membantu melindungi kepala dan mata dari paparan sinar matahari langsung.
Kesalahan berikutnya adalah menunda minum hingga merasa haus.
Saat cuaca panas, tubuh kehilangan cairan lebih cepat tanpa disadari.
Kondisi ini dapat memicu dehidrasi yang menjadi pintu masuk berbagai gangguan kesehatan selama liburan.
Para wisatawan disarankan selalu membawa botol minum dan mengonsumsi air putih secara berkala.
Minuman berkafein maupun beralkohol juga sebaiknya dibatasi karena dapat mempercepat hilangnya cairan tubuh.
Tak kalah penting, banyak orang tetap memaksakan diri berwisata pada pukul 10.00 hingga 14.00 WIB, saat matahari berada di titik paling terik.
Waktu tersebut justru menjadi periode dengan risiko paparan panas paling tinggi.
Sebaiknya aktivitas luar ruangan dilakukan pada pagi atau sore hari.
Sementara saat siang, wisatawan dapat beristirahat atau mengunjungi destinasi dalam ruangan seperti museum, pusat perbelanjaan, atau tempat hiburan ber-AC.
Perubahan suhu yang ekstrem dari luar ruangan yang panas ke ruangan berpendingin juga dapat memengaruhi kondisi tubuh.
Karena itu, menjaga daya tahan tubuh dengan konsumsi vitamin, pelembap kulit, serta masker saat berada di area berdebu menjadi langkah yang tidak kalah penting.
Selain menjaga kesehatan, wisatawan juga disarankan memesan tiket perjalanan dan akomodasi lebih awal.
Musim kemarau biasanya bertepatan dengan masa liburan sehingga berbagai destinasi dipadati pengunjung.
Antrean panjang di bawah terik matahari justru dapat meningkatkan risiko kelelahan akibat panas.
Dengan persiapan yang tepat, liburan tetap bisa dinikmati tanpa harus mengorbankan kesehatan.
Jangan sampai niat healing berubah menjadi pengalaman buruk hanya karena mengabaikan hal-hal sederhana yang ternyata bisa berujung heatstroke.


