Polri Kuatkan Semangat Perlindungan Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus

0 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

JAKARTA – Direktorat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta Pencegahan dan Penindakan Perdagangan Orang (PPO) Bareskrim Polri terus memperkuat komitmen pencegahan kekerasan terhadap perempuan, anak, dan kelompok rentan di lingkungan perguruan tinggi melalui kolaborasi bersama civitas academica.

Direktur PPA dan PPO Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Nurul Azizah menegaskan bahwa kampus harus menjadi ruang aman yang terbebas dari kekerasan dan eksploitasi, baik secara fisik maupun digital.

“Hari ini saya berdiri bukan hanya sebagai perwakilan institusi Polri, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang optimis terhadap masa depan bangsa yang bebas dari kekerasan,” ujar Nurul di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Malang), Jawa Timur, Kamis (15/5/2025).

Ia mengungkapkan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak kini tak lagi terbatas pada ruang privat, namun juga menjalar ke ranah digital dan kampus.

Beberapa mahasiswa bahkan menjadi korban kekerasan seksual dan eksploitasi secara daring tanpa mereka sadari, termasuk dalam skema perdagangan orang berbasis digital.

Polri melalui gerakan nasional “Rise and Speak” mendorong sinergi lintas sektor untuk membangun kesadaran publik yang inklusif dan berpihak pada korban, tidak hanya terfokus pada aspek penegakan hukum.

“Mari kita jadikan kampus sebagai benteng terakhir peradaban, tempat tumbuhnya keberanian, keadilan, dan kepedulian,” tegas Nurul.

Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol. Nanang Haryono, dalam kesempatan yang sama menyebutkan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah Malang mengalami penurunan sepanjang tahun 2025. Meski begitu, ia menekankan pentingnya penguatan langkah-langkah preventif.

“Diam itu emas, tapi berani bicara untuk pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, kilaunya melebihi berlian,” katanya.

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Zainuddin, mengapresiasi langkah Polri dalam membangun kesadaran bersama di lingkungan pendidikan tinggi. Menurutnya, kampus harus menjadi ruang yang inklusif dan aman, termasuk bagi mahasiswa internasional dari lebih dari 24 negara.

“Kekerasan tidak boleh menjadi bagian dari kehidupan kita, baik di kelas, asrama, maupun ruang digital,” ujar Zainuddin.

Kegiatan ditutup dengan pembacaan dan penandatanganan Deklarasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi, serta dialog interaktif bersama narasumber dari UPTD, Dittipid PPA dan PPO Bareskrim Polri, dan satuan tugas PPKS dari berbagai kampus di Malang Raya.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Muhammad Ibnu Idris
Apresiasi untuk Muhammad Ibnu Idris

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU