Indonesia dan Tanzania Pimpin Riset Global untuk Tekan Angka TBC, Libatkan 78.400 Peserta

0 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Indonesia dan Tanzania memimpin penelitian klinis global untuk menguji efektivitas intervensi nutrisi dalam mencegah tuberkulosis (TBC), terutama pada orang yang tinggal serumah dengan pasien.

Penelitian bertajuk Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition (PHOTON) itu melibatkan 78.400 peserta di kedua negara, dengan 42.260 peserta di antaranya berasal dari Indonesia.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan, penelitian ini menjadi salah satu upaya mencari pendekatan tambahan untuk menekan angka TBC di Indonesia. Pasalnya, Indonesia masih menempati posisi kedua sebagai negara dengan beban TBC tertinggi di dunia.

“Kita sudah bekerja keras melawan TB, tapi kita belum menang. Kenyataannya adalah kita masih nomor dua angka TB terbanyak di seluruh dunia,” kata Dante dalam Kick Off Meeting PHOTON Indonesia di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, dikutip Holopis.com, Kamis (22/10).

Menurut Dante, berbagai upaya telah dilakukan untuk menangani TBC, mulai dari pengobatan hingga pengembangan alat diagnosis. Namun, tingginya beban kasus menunjukkan perlunya strategi yang lebih menyeluruh, termasuk menguji peran nutrisi sebagai pendamping pengobatan medis.

“Mungkin nutrisi adalah salah satu jawaban yang akan mendampingi pengobatan TB secara medikamentosa,” ujarnya.

Uji Tiga Intervensi Nutrisi

Peneliti utama PHOTON, Rina Agustina, menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari keterkaitan antara TBC, status gizi, dan kondisi sosial ekonomi. Karena itu, intervensi nutrisi diuji untuk melihat apakah dukungan gizi dapat membantu menurunkan risiko penularan pada kontak serumah pasien TBC.

Rina merujuk penelitian RATIONS di India yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet. Penelitian tersebut menemukan bahwa dukungan nutrisi mampu menurunkan kejadian TBC paru terkonfirmasi bakteriologis pada kontak serumah hingga 48 persen.

“Temuan ini menjadi salah satu landasan ilmiah untuk pengembangan studi,” ujarnya.

Melalui PHOTON, para peneliti akan mengevaluasi tiga jenis intervensi selama enam bulan, yakni pemberian vitamin D, vitamin D yang dikombinasikan dengan multimikronutrien, serta vitamin D, multimikronutrien, dan protein dengan energi seimbang. Hasilnya akan dibandingkan dengan kelompok plasebo.

Peserta kemudian dipantau untuk mengevaluasi kejadian TBC paru dan TBC di luar paru yang terkonfirmasi bakteriologis selama 24 bulan. Penelitian ini berlangsung selama lima tahun.

Rina menegaskan, PHOTON tidak hanya berfokus pada pelaksanaan penelitian, tetapi juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemimpin ilmiah dalam kolaborasi global tersebut.

“Indonesia tidak hanya menjadi lokasi penelitian, tetapi juga berperan aktif dalam kepemimpinan ilmiah, mulai dari penyusunan pertanyaan penelitian dan protokol hingga desain serta pelaksanaan studi,” kata Rina.

Libatkan Peneliti dan Layanan Kesehatan

Di Indonesia, penelitian ini dipimpin Universitas Indonesia melalui Center for Global Resilience in Health and Nutrition, bekerja sama dengan Summit Institute for Development, Siklus Indonesia, dan Oxford University. Sementara itu, pelaksanaan penelitian di Tanzania dipimpin National Institute for Medical Research (NIMR).

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Vhina Noviyanti
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Muhammad Ibnu Idris
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU