HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menduga mafia pangan bermain di balik mahalnya harga ayam hingga beras. Peternak merugi, konsumen justru harus membayar mahal.
Harga pangan yang mahal di pasar ternyata tidak selalu berarti peternak dan petani menikmati keuntungan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyoroti kejanggalan perdagangan sejumlah bahan pangan ketika produsen mengeluhkan harga jual yang rendah, tetapi masyarakat tetap menghadapi harga tinggi.
Kondisi ini memunculkan dugaan adanya permainan dalam rantai distribusi yang kini menjadi perhatian pemerintah.
Tiga komoditas masuk dalam sorotan Amran, yakni ayam ras, telur ayam, dan beras.
Persoalan tersebut dinilai perlu diusut karena berpotensi menekan pendapatan peternak sekaligus memperberat pengeluaran rumah tangga.
Pemerintah mencurigai adanya perantara yang mengambil keuntungan besar di tengah ketimpangan harga tersebut.
Dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (12/10/2026), Amran menegaskan bahwa situasi harga pangan saat ini memerlukan pemeriksaan menyeluruh.
Menurutnya, keluhan produsen dan konsumen yang muncul bersamaan menjadi sinyal adanya persoalan dalam mekanisme perdagangan.
Ia menduga praktik mafia pangan menjadi salah satu faktor yang perlu ditelusuri.
Amran mencontohkan harga ayam di tingkat produsen yang berada pada kisaran Rp20.000-Rp21.000 per kilogram.
Pada saat bersamaan, konsumen disebut harus membayar sekitar Rp40.000-Rp45.000 per kilogram untuk memperoleh komoditas tersebut.



