JAKARTA, HOLOPIS.COM – Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap 29 September ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit kardiovaskular. Pada 2026, World Heart Federation (WHF) kembali mengusung kampanye “Don’t Miss a Beat” yang mengajak masyarakat mengenali tanda penyakit kardiovaskular dan memperhatikan faktor risiko sejak dini.
Penyakit kardiovaskular atau cardiovascular disease (CVD) ini mencakup berbagai gangguan pada jantung dan pembuluh darah, termasuk penyakit jantung koroner dan stroke. Menurut World Health Organization (WHO), penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Berdasarkan estimasi terbaru yang tersedia, sekitar 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular secara global pada 2022.
Faktor Risiko Penyakit Jantung
WHO menyebut pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, merokok, dan konsumsi alkohol berlebihan sebagai faktor perilaku yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Faktor tersebut dapat berkontribusi terhadap hipertensi, kadar gula dan kolesterol tinggi, serta obesitas.
Di Indonesia, hipertensi menjadi salah satu faktor risiko yang banyak ditemukan. Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan 30,8 persen penduduk berusia 18 tahun ke atas mengalami hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga memasukkan hipertensi, gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi sebagai tiga faktor yang menjadi fokus tindak lanjut Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada 2026. Ketiganya berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.
Selain faktor tersebut, pola makan menjadi perhatian karena konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular. WHO pada 2026 menyebut faktor risiko pola makan sebagai salah satu kontributor utama kematian dan disabilitas di Indonesia. Lebih dari separuh kematian akibat penyakit jantung di Indonesia dikaitkan dengan pola makan tidak sehat.
Risiko Jantung Berdasarkan Kelompok Usia
Faktor risiko terkena penyakit jantung dapat ditemukan sejak usia muda. Data CKG yang dirilis Kemenkes pada Juli 2026 menunjukkan sekitar 21 persen anak sekolah dan remaja yang diperiksa mengalami peningkatan tekanan darah.
Memasuki usia dewasa, faktor risiko lain mulai terlihat. Evaluasi CKG menunjukkan satu dari tiga orang dewasa usia 18 hingga 59 tahun mengalami obesitas sentral. Kondisi tersebut berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan berbagai penyakit tidak menular. Pada kelompok lansia, hipertensi menjadi perhatian yang lebih besar. Kemenkes mencatat 51 persen lansia dalam evaluasi CKG mengalami hipertensi.
Data tersebut menunjukkan faktor risiko penyakit jantung tidak baru muncul pada usia lanjut. Tekanan darah yang meningkat sudah ditemukan sejak kelompok anak sekolah dan remaja, sementara obesitas sentral banyak ditemukan pada kelompok dewasa dan hipertensi menjadi persoalan yang menonjol pada lansia.
WHO juga mencatat penyakit kardiovaskular dapat menyebabkan kematian sebelum usia 70 tahun. Sekitar sepertiga kematian akibat penyakit kardiovaskular terjadi secara prematur pada kelompok usia tersebut. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan jantung tidak perlu menunggu usia lanjut. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, berat badan, serta kebiasaan sehari-hari dapat menjadi bagian dari upaya mengenali risiko sejak lebih awal.
Melalui kampanye “Don’t Miss a Beat” pada Hari Jantung Sedunia 2026, WHF juga menekankan bahwa penyakit kardiovaskular dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia, tingkat kebugaran, maupun gaya hidup. Masyarakat didorong untuk mengenali tanda dan gejala, mengelola faktor risiko, serta melakukan perubahan kecil yang konsisten untuk menjaga kesehatan jantung.



