Hari Jantung Sedunia 2026, Indonesia Masih Defisit 5.162 Dokter Spesialis Jantung

0 Shares

JAKARTA, HOLOPIS.COM – Ketika nyeri dada, sesak napas, atau jantung berdebar muncul, keputusan untuk segera mencari pertolongan medis dapat menjadi langkah penting. Namun, kesadaran mengenali gejala tersebut perlu diikuti dengan tersedianya layanan dan tenaga medis yang dapat memberikan penanganan.

Hal itu menjadi salah satu perhatian dalam peringatan Hari Jantung Sedunia atau World Heart Day yang diperingati setiap 29 September.

Pada 2026, World Heart Federation (WHF) mengusung kampanye “Don’t Miss a Beat” yang mengajak masyarakat mengenali tanda dan gejala penyakit kardiovaskular, melindungi kesehatan jantung, serta mengambil tindakan untuk menjaga kesehatan jantung.

Di Indonesia, upaya meningkatkan kesadaran tersebut masih berhadapan dengan persoalan akses layanan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat kebutuhan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (SpJP) pada 2026 mencapai 6.801 orang. Sementara itu, jumlah SpJP yang tersedia baru 1.639 dokter per Juli 2026.

Artinya, Indonesia masih defisit 5.162 dokter SpJP untuk memenuhi kebutuhan yang diproyeksikan. Jumlah dokter yang tersedia saat ini baru mencakup sekitar 24,1 persen dari kebutuhan tersebut.

Kesenjangan Spesialis di Tengah Jumlah Penduduk

Kesenjangan tersebut terlihat semakin besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk Indonesia pada pertengahan 2026 mencapai 287,2 juta jiwa.

Jika dibandingkan secara sederhana, 1.639 dokter SpJP yang tersedia berada dalam skala sekitar satu dokter untuk setiap 175 ribu penduduk. Sementara berdasarkan kebutuhan Kemenkes sebanyak 6.801 dokter, perbandingannya sekitar satu SpJP untuk setiap 42 ribu penduduk.

Perbandingan tersebut bukan merupakan rasio kebutuhan klinis dan tidak berarti setiap penduduk membutuhkan dokter spesialis jantung. Angka itu hanya menggambarkan besarnya kesenjangan antara ketersediaan tenaga spesialis dengan jumlah penduduk yang harus dilayani.

Persoalannya juga bukan hanya jumlah dokter, tetapi bagaimana tenaga spesialis tersebut tersebar. Kemenkes mencatat 63,8 persen dokter SpJP masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Kondisi tersebut membuat pemerataan tenaga menjadi bagian penting dalam penguatan layanan jantung. Ketersediaan fasilitas kesehatan di suatu daerah perlu berjalan beriringan dengan tenaga spesialis yang memiliki kompetensi untuk mengoperasikan dan memberikan pelayanan di fasilitas tersebut.

Layanan Jantung Diperluas, Tenaga Spesialis Dikejar

Kemenkes sebelumnya memperluas distribusi laboratorium kateterisasi atau cath lab ke berbagai daerah untuk mendukung pelayanan jantung. Fasilitas ini merupakan ruang khusus di rumah sakit yang dilengkapi peralatan pencitraan sinar-X canggih untuk melakukan pemeriksaan diagnostik serta tindakan medis intervensi pada jantung dan pembuluh darah. Namun, penambahan cath lab perlu diikuti dengan ketersediaan tenaga medis yang mampu memberikan pelayanan jantung secara optimal.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut ketersediaan alat berteknologi tinggi tidak akan optimal dalam menangani pasien serangan jantung apabila tidak diimbangi tenaga ahli. Karena itu, pemerintah bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) mempercepat pemenuhan dan pemerataan SpJP.

Salah satu perkembangan terlihat dari jumlah SpJP dengan kompetensi kardiologi intervensi. Kemenkes mencatat jumlahnya meningkat dari 99 dokter pada 2020 menjadi 414 dokter pada 2026.

Pemerintah juga mengirim dokter untuk mengikuti program fellowship jantung di luar negeri. Hingga 2026, sebanyak 98 dokter telah dikirim ke Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia. Dari jumlah tersebut, 58 dokter telah menyelesaikan pendidikan dan kembali mengabdi di Indonesia.

Beban Penyakit Jantung Masih Tinggi

Kebutuhan memperkuat layanan tersebut tidak terlepas dari besarnya beban penyakit jantung di Indonesia. Petunjuk teknis Kemenkes 2026 mencatat prevalensi penyakit jantung berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 sebesar 0,85 persen.

Survei tersebut juga mencatat rata-rata kejadian serangan jantung pada penyakit jantung koroner mencapai 222,3 per 100.000 penduduk. Jika dikalikan dengan jumlah penduduk, angkanya diperkirakan mendekati 700 ribu serangan jantung per tahun.

0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Vhina Noviyanti
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Muhammad Ibnu Idris

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU