Riset itu mencatat, dampak krisis iklim paling banyak dirasakan pada pola konsumsi dan biaya pangan, dengan persentase 41 persen. Berikutnya, sebanyak 39 persen responden merasakan dampak terhadap produktivitas dan pendapatan, sedangkan 20 persen lainnya merasakan dampak pada akses tempat tinggal dan biaya transportasi.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan iklim juga berkaitan langsung dengan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar.
Ketua Tim Kampanye Sosial dan Ekonomi Greenpeace Indonesia, Atha Rasyadi, turut mempertanyakan siapa yang menikmati pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan biaya hidup dan kerusakan lingkungan.
Ia menyoroti klaim Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD 2026 mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,45 persen pada paruh pertama tahun ini.
“Presiden mengklaim bahwa angka ini adalah angka pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam 13 tahun terakhir, tetapi siapa yang benar-benar menikmati hasilnya? Karena faktanya pertumbuhan ini tidak dirasakan oleh masyarakat,” kata Atha.
Menurut Atha, pertumbuhan ekonomi perlu dilihat bersama dampaknya terhadap kehidupan masyarakat dan lingkungan. Ia menilai masyarakat justru harus menanggung konsekuensi ketika eksploitasi sumber daya alam tidak diimbangi perlindungan lingkungan.
“Kita tidak bisa terus diam ketika pertumbuhan ekonomi hanya memperkaya segelintir orang apalagi dengan eksploitasi alam secara serakah, sementara masyarakat dipaksa berjuang sendiri untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Warga Pangkas Pengeluaran dan Cari Penghasilan Tambahan
Laporan Greenpeace juga mencatat berbagai strategi yang dilakukan masyarakat untuk menghadapi tekanan ekonomi akibat dampak krisis iklim.
Sebanyak 57,34 persen responden mengaku memangkas konsumsi non-esensial untuk menghemat sekitar Rp50.000 hingga Rp1 juta per bulan. Sementara itu, 38,78 persen responden memilih menanam kebutuhan pokok di rumah dengan perkiraan penghematan Rp80.000 hingga Rp500.000 per bulan.
Untuk menambah pemasukan, sebanyak 56,79 persen responden mengambil pekerjaan sampingan atau membuka usaha baru. Upaya tersebut disebut dapat menambah pendapatan sekitar Rp500.000 hingga Rp2,5 juta per bulan.
Adapun 17,73 persen responden mengembangkan produksi pangan mandiri, seperti sayuran, telur, dan susu, yang menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp5.000 hingga Rp500.000 per bulan.
Greenpeace menilai langkah-langkah tersebut memperlihatkan kemampuan masyarakat beradaptasi. Namun, kondisi itu sekaligus menunjukkan semakin besarnya beban yang harus ditanggung rumah tangga untuk bertahan menghadapi tekanan hidup.



