HOLOPIS.COM, ACEH TAMIANG – Jejak amukan banjir bandang yang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 perlahan mulai menghilang.
Salah satu titik yang paling terdampak, Pondok Pesantren (PP) Darul Mukhlisin, kini menampakkan wajah baru yang jauh lebih lega dan tertata, menjadi simbol nyata dari proses pemulihan pascabencana.
Pemandangan hari ini sangat berbeda dibandingkan kondisi mencekam pada 26 November 2025 lalu. Saat itu, kawasan pesantren nyaris tak terlihat.
Lumpur pekat menutup hampir seluruh area, sementara gunungan kayu gelondongan hasil terjangan arus banjir berserakan di mana-mana. Akses utama tertutup total, fasilitas pendidikan rusak, dan aktivitas belajar mengajar terhenti.
Batang-batang pohon besar menumpuk di halaman pesantren, menciptakan pemandangan menyerupai hutan darurat. Suasana yang biasanya dipenuhi lantunan ayat suci dan aktivitas santri berganti dengan sunyi dan kerusakan akibat bencana.
Namun, proses pemulihan berjalan tanpa henti. Berdasarkan dokumentasi terbaru yang diterima Badan Komunikasi Pemerintah RI (Bakom RI) pada Jumat (2/1/2026), perubahan signifikan kini terlihat jelas.
Area pesantren yang sebelumnya dipenuhi kayu dan lumpur kini telah bersih dan lapang. Jalur-jalur yang sempat tertutup total sudah kembali terbuka.
Deretan alat berat yang selama berminggu-minggu bekerja siang dan malam di bawah keterbatasan penerangan kini terparkir rapi. Hal ini menjadi penanda bahwa tahap utama pembersihan material banjir telah berhasil diselesaikan.
Salah satu bangunan yang paling mencuri perhatian adalah masjid pesantren. Bangunan ini sempat viral karena tetap berdiri kokoh di tengah terjangan banjir bandang.
Kini, masjid tersebut terlihat bersih, tidak lagi dikepung tumpukan kayu, dan telah difungsikan sebagai tempat beristirahat para petugas serta relawan.
Meski di luar lingkungan pesantren masih tampak beberapa sisa kayu yang mulai mengering, kondisi di dalam area Darul Mukhlisin sudah jauh lebih tertata.
Kerja keras lintas unsur, mulai dari pemerintah, relawan, hingga masyarakat, dengan koordinasi terpadu membuahkan hasil nyata.
Walau sarana pendidikan belum sepenuhnya siap digunakan kembali, bersihnya kawasan pesantren menjadi secercah harapan.
Target ke depan adalah mengembalikan aktivitas ibadah dan pendidikan agar para santri dapat kembali menimba ilmu dengan aman dan tenang.
Pemulihan Pesantren Darul Mukhlisin menjadi bukti bahwa dari reruntuhan bencana, harapan baru bisa tumbuh.


