Risiko tersebut terutama perlu diperhatikan pada anak berusia di bawah lima tahun.
Wahyuni menyebut meta-analisis menunjukkan setiap kenaikan 10 µg/m3 PM2.5 akibat kebakaran hutan berkaitan dengan peningkatan sekitar 6 persen rawat inap karena asma dan 7 persen kunjungan IGD terkait asma.
Paparan asap juga bukan hanya berpotensi memicu ISPA. Pada anak dengan kondisi tertentu, asap dapat memperburuk penyakit yang sudah ada.
Beberapa kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain anak dengan asma, bronkiektasis, penyakit paru kronis, penyakit jantung bawaan, serta riwayat displasia bronkopulmonal.
Sekolah Diminta Pantau Kualitas Udara
Dampak karhutla juga menjadi perhatian dalam aktivitas pembelajaran di sekolah.
Mengacu pada rekomendasi IDAI dan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Nomor 20 Tahun 2026, kegiatan belajar di daerah terdampak disesuaikan dengan kondisi ISPU harian.
Pemantauan ISPU disebut perlu dilakukan setidaknya dua kali dalam sehari, yakni sebelum pembelajaran dimulai dan pada pertengahan hari.
Berikut ketentuan kegiatan pembelajaran berdasarkan kondisi ISPU:
- ISPU 1-50 (Baik): pembelajaran tatap muka dapat berlangsung normal.
- ISPU 51-100 (Sedang): pembelajaran tatap muka tetap berjalan, tetapi aktivitas luar ruangan seperti upacara, olahraga dan ekstrakurikuler perlu dibatasi atau dipindahkan ke dalam ruangan.
- ISPU 101-200 (Tidak Sehat): pembelajaran tatap muka dibatasi secara ketat. Kelompok rentan, termasuk anak-anak, diarahkan untuk belajar dari rumah.
- ISPU 201-300 (Sangat Tidak Sehat): seluruh peserta didik wajib mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).
- ISPU di atas 300 (Berbahaya): seluruh kegiatan pembelajaran dilakukan secara jarak jauh.
Jangan Tunggu Anak Sesak
IDAI mengingatkan orang tua untuk tidak menunda pemeriksaan apabila anak mulai mengalami gangguan pernapasan.
Gejala yang perlu diperhatikan antara lain sesak napas, batuk berkepanjangan hingga penurunan kesadaran.
“Kesehatan anak adalah prioritas utama. Jangan ragu untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala sesak napas, batuk berkepanjangan, atau penurunan kesadaran. Pencegahan dan deteksi dini adalah kunci,” tegas Piprim.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...