Ultimatum Trump: AS Siapkan Serangan Brutal ke Jantung Infrastruktur Iran

0 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase paling berbahaya. Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman langsung terhadap infrastruktur sipil Iran.

Trump secara terbuka memperingatkan akan mengebom pembangkit listrik dan jembatan jika Iran tak membuka kembali Selat Hormuz sesuai tenggat waktu yang ia tetapkan.

“Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya dalam satu hari, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka – LIHAT SAJA!,” tulis Trump dikutip dari Time, Senin, (6/4/2026)

Trump mengakhiri pesan itu dengan kalimat. “Segala puji bagi Allah.”

Pernyataan kontroversial itu disampaikan melalui platform Truth Social dan langsung memicu reaksi keras dari komunitas internasional.

Di balik retorika keras tersebut, Trump mengklaim masih membuka jalur negosiasi. Dalam wawancara media, ia menyebut peluang kesepakatan dengan Iran masih terbuka.

“Jika mereka tidak membuat kesepakatan dan dengan cepat, saya mempertimbangkan untuk meledakkan semuanya dan mengambil alih minyak,” ujar Trump.

Namun, pernyataan ini justru mempertegas pendekatan tekanan maksimal yang kini ditempuh Washington. AS seperti menggabungkan diplomasi dengan ancaman militer terbuka.

Ancaman terhadap infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan memunculkan kekhawatiran serius. Dalam hukum humaniter internasional, fasilitas yang menopang kehidupan sipil tidak boleh menjadi target serangan.

Penghancuran fasilitas tersebut berpotensi memicu krisis besar: pemadaman listrik massal, lumpuhnya rumah sakit, gangguan pasokan air bersih, hingga terhentinya distribusi pangan.

Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnes Callamard, mengecam keras pernyataan Trump. Dia mengaku seperti kehabisan kata-kata untuk mengecam dan mengutuk Tindakan Trump.

“Warga sipil Iran akan menjadi yang pertama menderita akibat penghancuran pembangkit listrik dan jembatan. Tidak ada pemanas, tidak ada listrik, tidak ada air, tidak ada kemampuan untuk bergerak atau melarikan diri, dan semua yang berarti bagi hak mereka untuk hidup,” kata Callamard.

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis

Akar ketegangan ini berada di Selat Hormuz—jalur sempit yang menjadi nadi perdagangan energi dunia. Penutupan jalur ini oleh Iran sejak akhir Februari telah mengganggu sekitar 20 persen distribusi minyak global.

Situasi tersebut dipicu oleh eskalasi konflik sejak Serangan AS-Israel ke Iran 2026, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan ke berbagai target strategis di kawasan.

Dalam beberapa pekan terakhir, dampaknya mulai terasa luas: pasokan energi terganggu. Lalu, harga minyak melonjak, dan tekanan ekonomi meningkat di berbagai negara.

Ancaman terbaru Trump memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya berpotensi meluas secara militer, tetapi juga membawa risiko kemanusiaan yang besar.

Jika serangan AS berlanjut dengan fokus membidik infrastruktur benar-benar terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan Iran. Tapi, juga berpotensi memicu krisis global—baik dari sisi energi maupun stabilitas geopolitik.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Dani Yoga
Tim Penulis & Editor
Dani Yoga
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU