HOLOPIS.COM, JAKARTA – Iran memberi sinyal tengah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan perang kembali dengan Amerika Serikat (AS). Para pejabat militer Teheran bahkan mengancam akan memperluas sasaran serangan jika Washington kembali melanjutkan konflik yang dimulai pada Februari lalu.
Dalam sebulan terakhir, sejumlah komandan militer Iran semakin gencar menyampaikan bahwa negaranya telah menyiapkan persediaan besar senjata baru. Persenjataan tersebut diklaim siap digunakan untuk menyerang target di luar kawasan Timur Tengah apabila AS kembali melancarkan serangan.
Pejabat Iran juga mengisyaratkan kemungkinan perluasan sasaran, termasuk kabel internet bawah laut, pusat data kecerdasan buatan (AI), serta fasilitas minyak dan gas di kawasan regional.
Juru bicara Garda Revolusi Iran, Hossein Mohebbi, menegaskan bahwa negaranya memiliki sasaran baru yang belum pernah diserang sebelumnya.
“Dunia akan dibuat takjub,” ujar Mohebbi pada akhir bulan lalu, dikutip Holopis.com, Senin (19/10).
Ia juga menegaskan bahwa konflik belum berakhir dan Garda Revolusi Iran telah mempersiapkan diri untuk menghadapi perang jangka panjang.
Konflik AS – Iran Berada di Titik Buntu
Hampir sembilan bulan setelah AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran, konflik tersebut disebut mengalami kebuntuan. Situasi ini membuat tujuan akhir Presiden AS Donald Trump masih menjadi tanda tanya, sementara ketidakstabilan ekonomi terus membayangi dunia.
Kedua pihak sama-sama mengklaim kemenangan. Teheran menilai keberhasilannya bertahan dari serangan sebagai pencapaian, sedangkan Washington menyoroti kerusakan yang ditimbulkan terhadap rezim Iran.
Pemerintahan Trump masih menguji berbagai langkah ekonomi dan militer untuk memaksa Iran menyerah. Namun, Teheran sejauh ini tetap menolak tekanan tersebut.
Di sisi lain, sejumlah penasihat Gedung Putih dilaporkan telah mengadakan pertemuan untuk membahas berbagai opsi kebijakan terhadap Iran.
Trump sebelumnya menyatakan secara terbuka bahwa dirinya tidak akan mengambil tindakan baru sebelum pemilihan paruh waktu AS pada 3 November. Namun, sejumlah penasihatnya mengatakan kepada CNN bahwa mereka belum mengetahui apakah pernyataan tersebut merupakan keputusan final atau masih dapat berubah sebelum pemungutan suara.
Menurut sejumlah pejabat AS yang mengetahui rencana tersebut, militer Amerika telah menyusun opsi serangan baru yang berpotensi menyasar infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penggunaan GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB), bom non-nuklir terbesar dalam persenjataan AS yang kerap dijuluki Mother of All Bombs atau induk segala bom.
Penggunaan senjata tersebut akan menandai peningkatan signifikan dalam eskalasi militer apabila Trump memerintahkan dimulainya kembali operasi tempur, baik sebelum maupun setelah pemilihan paruh waktu.



