Pendiri NII Crisis Center: Yayasan Tahfidz dan Panti Asuhan Rentan Terpapar Paham Radikalisme

1 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Lembaga sosial seperti panti asuhan dan yayasan tahfidz Al-Qur’an sejatinya menjadi tumpuan harapan serta tempat naungan yang aman bagi anak-anak yang tengah meniti masa depan. Namun, di balik nama mulianya, lingkungan ini rupanya tak luput dari ancaman penyusupan ideologi radikal dan terorisme.

Peringatan penting tersebut digaungkan oleh NII Crisis Center usai menggelar serangkaian kunjungan silaturahmi ke sejumlah panti asuhan serta rumah tahfidz di Provinsi Lampung, dalam rangka menyampaikan pesan-pesan kebangsaan.

Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak menggeneralisasi seluruh lembaga sosial di Lampung.

Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa anak-anak di panti asuhan dan rumah tahfidz memiliki kondisi psikologis yang masih mencari jati diri serta cenderung eksklusif, sehingga rentan menjadi sasaran empuk kelompok ekstrem.

“Kelompok radikal sering kali memanfaatkan kepolosan serta semangat keagamaan anak-anak. Doktrinasi biasanya tidak dilakukan secara terbuka lewat kurikulum resmi, melainkan melalui ruang-ruang informal, pengajaran tertutup, hingga pendekatan personal,” ujar Ken Setiawan dalam keterangan persnya yang diterima Holopis.com, Minggu (11/10/2026).

Penggunaan label seperti ‘Yayasan Tahfidz’ atau ‘Rumah Yatim’ kerap dijadikan tameng serta kedok untuk membangun reputasi baik di mata publik.

Dengan begitu, aktivitas internal mereka tidak memicu kecurigaan aparat kepolisian maupun masyarakat sekitar. Tak hanya penyebaran paham radikal,

Ken juga menyoroti bahaya penyalahgunaan lembaga sosial sebagai tempat penggalangan dana ilegal untuk menyokong aksi terorisme.

Mantan aktivis NII ini membeberkan rekam jejak masa lalunya saat mengelola yayasan yatim piatu dengan puluhan cabang di Indonesia.

Kala itu, pergerakan dana yang masuk melalui proposal pengajuan Corporate Social Responsibility (CSR) mampu menembus angka ratusan juta hingga miliaran rupiah per bulan.

Kita tentu masih ingat ketika aparat mengamankan lebih dari 20 ribu kotak amal milik Yayasan Abdurrahman bin Auf (ABA) di beberapa daerah, termasuk di Bandar Lampung.

Kotak amal yang ditaruh di depan kasir minimarket, warung makan, hingga toko kelontong di desa-desa itu hasilnya disalahgunakan untuk pendanaan kelompok teroris.

Mereka paham betul masyarakat Indonesia itu dermawan dan mudah bersedekah,” papar Ken.

Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Muhammad Ibnu Idris
Apresiasi untuk Muhammad Ibnu Idris

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
1 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU