HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketua Program Studi Kajian Terorisme SPPB Universitas Indonesia, Zora Arfina Sukabdi, menilai upaya memahami pendanaan terorisme tidak cukup hanya dengan menelusuri dari mana uang berasal dan ke mana dana tersebut bergerak.
Menurut Zora, faktor psikologis dan sosial yang mendorong seseorang memberikan donasi juga perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan pendanaan terorisme.
Hal itu disampaikan Zora saat membedah Buku I Evolusi Pendanaan Terorisme dalam kegiatan Bedah Buku Trilogi Pendanaan Terorisme di Jakarta, 7 Oktober 2026.
Dalam pembahasannya, Zora menyoroti perubahan pola pendanaan terorisme sejak awal 2000-an hingga berkembangnya pemanfaatan teknologi dan aset digital.
Zora Sukabdi juga memberikan perhatian terhadap mekanisme psikologi sosial yang dapat memengaruhi seseorang ketika memutuskan memberikan donasi.
Salah satu mekanisme yang dibahas adalah social proof, yakni kecenderungan seseorang menganggap suatu tindakan benar atau layak dilakukan ketika melihat orang lain melakukan tindakan yang sama.
Dalam konteks penggalangan dana, banyaknya orang yang telah memberikan donasi dapat membentuk persepsi bahwa suatu kegiatan dianggap wajar, kredibel, dan layak diikuti.
“Dalam melihat pendanaan terorisme, kita tidak cukup hanya bertanya dari mana uang berasal dan ke mana uang bergerak. Kita juga perlu memahami mengapa seseorang bersedia memberikan uang. Ada proses psikologis dan sosial yang membuat tindakan berdonasi terasa benar, terlebih ketika seseorang melihat banyak orang lain melakukan hal yang sama,” ujar Zora.
Menurutnya, perspektif tersebut menunjukkan bahwa pencegahan pendanaan terorisme tidak hanya berkaitan dengan sistem transaksi keuangan.
Pemahaman terhadap narasi, lingkungan sosial, serta mekanisme persuasi yang digunakan untuk membangun kepercayaan juga dinilai penting untuk mencegah seseorang terlibat dalam aktivitas pendanaan.
Pembahasan tersebut menjadi bagian dari Bedah Buku Trilogi Pendanaan Terorisme yang mempertemukan akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan untuk membahas perkembangan ancaman pendanaan terorisme di Indonesia.
Hadir dalam bedah buku tersebut, di antaranya adalah ; salah satu penulis buku I Made Wisnu Wardhana; Deputi Bidang Pelaporan dan Pengawasan Kepatuhan PPATK Fithriadi Muslim; dosen SPPB UI Stanislaus Riyanta; serta Kepala BNPT Komjen Pol (purn) Eddy Hartono.



