Ken Setiawan: Film Ageman Kampanyekan Logika Berpikir dan Merestruktur Logika Mistika

1 Shares
Ukuran text:
21
Dengarkan Berita:

LAMPUNG – Film Ageman tidak hanya ditujukan sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi media edukasi untuk merawat keragaman dan mendorong masyarakat membangun pola pikir yang lebih rasional.

Film yang disutradarai Jasper Lance Piscasio dan diproduseri Ken Setiawan tersebut melibatkan talenta lokal Lampung. Para pemerannya berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari pemuda lintas etnis, akademisi, pejabat Pemerintah Provinsi Lampung, hingga tokoh lintas agama.

Secara filosofis, nama Ageman diserap dari tiga bahasa, yakni Jawa, Sunda, dan Bali, yang memiliki makna pakaian, pedoman, atau keyakinan.

Makna tersebut kemudian menjadi landasan pesan film bahwa identitas suku, ras, dan agama merupakan amanah lahiriah yang semestinya menjadi kekuatan untuk saling melengkapi, bukan menjadi sumber kebencian dan perpecahan.

Produser Ageman, Ken Setiawan, mengatakan gagasan film tersebut berangkat dari keprihatinannya terhadap persoalan literasi dan edukasi masyarakat yang dinilai masih dapat memicu berbagai persoalan sosial.

Menurut Ken, rendahnya literasi dapat berkelindan dengan munculnya krisis moral, penyebaran hoaks, perundungan, intoleransi, hingga menjadi celah bagi berkembangnya paham radikalisme.

Ken secara khusus menyoroti apa yang disebutnya sebagai “logika mistika”, yakni pola pikir yang mengaitkan berbagai fenomena sosial maupun alam dengan kekuatan gaib atau takdir mutlak tanpa melihat hubungan sebab-akibat secara rasional.

“Logika mistika ini menciptakan mental blocking. Misalnya, ketika ada bencana alam dianggap azab untuk kelompok lain, tapi jika menimpa kelompok sendiri dianggap ujian,” ujar Ken dalam keterangannya yang diterima Holopis.com, Sabtu (19/9/2026).

Ia mencontohkan pola serupa ketika seseorang melihat keberhasilan orang lain yang memiliki keyakinan berbeda.

“Begitu juga saat melihat keberhasilan orang lain yang beda keyakinan, dianggap hanya istidraj, bukan hasil kerja keras dan hukum ekonomi,” lanjutnya.

Melalui film Ageman, Ken ingin mengajak masyarakat melakukan restrukturisasi terhadap pola pikir tersebut dengan menempatkan kemampuan berpikir kritis dan rasional sebagai bagian penting dalam kehidupan.

Menurut dia, agama semestinya tidak diposisikan sebagai penghalang bagi penggunaan akal. Sebaliknya, agama dinilai dapat menjadi landasan untuk mendobrak takhayul sekaligus mendidik manusia agar mampu menggunakan akalnya dalam memahami dan mengelola kehidupan.

“Agama, menurutnya, hadir justru untuk mendobrak takhayul dan mendidik akal agar manusia dapat berpikir rasional dalam mengelola dunia fisik, sembari menjaga keimanan yang sehat,” kata Ken.

FKPT Lampung Tekankan Pesan Inklusivitas

Pesan yang dibawa Ageman juga mendapat perhatian dari Eksekutif Produser film tersebut sekaligus Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Muhammad Ibnu Idris
Apresiasi untuk Muhammad Ibnu Idris

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
1 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU