Perhatian terhadap kesehatan Kim Jong-un bermula dari laporan bahwa dirinya mengalami gangguan kesehatan serius hingga harus menjalani prosedur medis pada jantung.
Dalam informasi yang beredar, Kim Jong-un disebut menjalani pemasangan stent, yaitu alat kecil yang digunakan untuk membantu menjaga pembuluh darah tetap terbuka.
Prosedur tersebut diklaim mengalami kendala ketika dokter yang menangani tindakan medis itu disebut mengalami gemetar hebat.
Klaim tersebut kemudian dikaitkan dengan dugaan komplikasi yang membuat kondisi Kim Jong-un memburuk.
Sejumlah laporan bahkan menyebut ia mengalami koma permanen sebelum akhirnya dikabarkan meninggal dunia.
Meski terdengar mengejutkan, rincian mengenai dugaan kegagalan prosedur medis itu belum terkonfirmasi.
Tidak ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa tindakan tersebut benar-benar gagal atau menjadi penyebab kematian Kim Jong-un.
Sebelumnya, sejumlah pemberitaan juga menyebut Amerika Serikat memantau informasi intelijen mengenai kondisi kesehatan pemimpin Korea Utara tersebut setelah operasi.
Akan tetapi, laporan mengenai pemantauan intelijen tidak otomatis membuktikan bahwa Kim Jong-un telah meninggal dunia.
Kabar kematian Kim Jong-un semakin ramai setelah muncul klaim bahwa dirinya meninggal pada Jumat atau Sabtu pekan sebelumnya.
Informasi itu menyebar melalui sejumlah pemberitaan internasional yang mengangkat dugaan kondisi kritis setelah prosedur medis.
Sampai Selasa (20/10/2026), pemerintah Korea Utara belum mengeluarkan pernyataan resmi yang mengonfirmasi kabar tersebut.
Kondisi terakhir Kim Jong-un juga belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia.




